Lampu Jauh di Jakarta VERSUS di Sydney


Sydney Traffic dan para Pendaki Sydney Harbour Bridge :)
Taken from http://www.bridgeclimb.com/The-Bridge/Traffic/

LAMPU JAUH. Bagi yang biasa menyetir mobil sendiri tentunya paham dengan bagian mobil yang satu ini. Ya, lampu jauh mobil atau high beam headlamps adalah lampu yang pancaran cahayanya sangat kuat dan silaunya bukan main, sehingga dapat membahayakan pengendara yang datang dari arah berlawanan. Dan memang lampu ini tidak dianjurkan untuk dinyalakan ketika menyetir di saat2 biasa, kecuali di saat darurat seperti menyetir di jalan yang super duper gelap atau menyetir di malam hari di jalan desa atau motorway (tol) yang penuh dengan lika liku tikungan tajam, dsbnya.


Lampu Jauh
Taken from http://tofaninoff.blogspot.com/2011/01/tolong-matikan-lampu-jauh-tuan.html

Nah, tiga tahun menyetir di Sydney, kota terbesar dan merupakan kota metropolitannya Australia ini, membuat saya sadar betapa berbedanya perspective pengendara mobil di Sydney dengan di Jakarta mengenai penggunaan dan arti lampu jauh ini.

Di bulan2 pertama mengemudi mobil di Sydney, hampir tak pernah saya menemukan pengendara yang menggunakan/menyalakan lampu jauh mobilnya. Bahkan ketika saya menyetir di motorway pun atau tunnel bawah laut yang naudzubillaah panjangnya, semua kendaraan hanya menggunakan lampu biasa alias lampu dekat atau low beam headlamps nya. Hingga sekali waktu, ketika hendak memotong jalan bermaksud mau berbelok ke kanan memotong jalan/jalur lalu lintas yang berlawanan arah dengan mobil saya, terjadilah peristiwa yang membuat saya berpikir tentang arti lampu jauh di Sydney sini.

Begini ceritanya. Setelah menyalakan sen kanan sebagai sinyal bahwa saya hendak berbelok ke kanan, tau2 sebuah mobil dengan arah yang berlawanan dengan mobil saya berhenti, dan “mengedipkan” lampu jauhnya satu kali. Karena terbiasa menyetir di Jakarta, saya pikir artinya sama dengan yang saya pahami di Jakarta sana, yaitu mengedipkan lampu jauhnya untuk memberi sinyal bahwa “KASIH GUE JALAN YA? atau JANGAN POTONG JALAN GUE!” Nah, dengan asumsi seperti itu, saya pun tetap berhenti sambil terus menyalakan sen kanan untuk memberi jalan mobil tadi.

Ternyata tuh mobil masih berhenti juga, dan again dia mengedipkan lampu jauhnya sekali lagi. Cuma kali ini dikasih bonus tangan kanannya memberi sinyal: “SILAHKAN JALAN MBAK, BU, eh TANTE, MISS…”. Dan setelah melihat sinyal tangannya itu, barulah saya berani berbelok kanan memotong jalan berjalan di depan mobil orang yang memberi lampu jauh tadi, untuk kemudian saya masuk ke jalan yang ingin dituju. Tentunya tak lupa mengangkat satu tangan untuk mengucapkan terima kasih.

Dua kali, tiga kali, hingga lima kali mengalami hal yang sama, barulah saya paham benar bahwa ternyata di Sydney sini, memberi high beam itu memiliki arti yang sangat berbeda dan sungguh bertolak belakang dengan yang ada di Jakarta sana. Bila di Sydney artinya “SILAHKAN LEWAT, JEUNG!”. Kalo di Jakarta, artinya “AWAS LU YE! JANGAN POTONG JALAN GUE!” Hehehe….. Jakarta oh Jakarta.

~Ditulis dari pengalaman pribadi, sambil berharap agar suatu saat mengemudi di Jakarta akan sama nyamannnya dengan menyetir di Sydney :)

About these ads

13 thoughts on “Lampu Jauh di Jakarta VERSUS di Sydney

  1. Kalo di India beda lagi…kagak paham maksudnya lampu jauh ama lampu dekat apa? udah berpapasan tetep aja nyalain lampu jauh…wadowww, yang ada gw ngomel2 kalo lg keluar malam ama suami…kan bahaya banget buat semua pengemudi…hadeuuuhhhh…

      • Salah Wi, seperti yang gw ceritain di topic Klakson Please emang kagak diajarin pas mo ngambil SIM, makanya amburadul kalo nyetir disini hikss…

    • Gak juga karena di jkt macetnya ampun2, teman2 orang indonesia bilang mendingan nyetir disini daripada jkt …halahhh mendingan nyetir di aussie deh hehehe…

  2. Hehehe…budaya yang beda ya….
    Kadang-kadang saya berpikir, setelah kenal dengan beberapa teman dari LN..kok kayaknya mereka lebih berbudaya ya? Atau saya yang salah?

    • Engga lah Bu, plus minus pastinya :). Orang2 bule atau orang2 di negara maju mungkin boleh lebih modern dalam beberapa hal, tapi mereka dalam sehari2 nya jauh lebih individualis :D… ini kata cerita beberapa temen yang udah bertahun2 tinggal di Eropa. Dan soal ramah tamah khususnya public service, orang2 bule itu lebih apa adanya, bicara seperlunya, kalo di Indo kan ke rumah sakit aja, resepsionis nya bisa uda nyengir lebar2 pas kita baru tiba di pintu masuk hehehehehe….

      • Hmmm…. Kalau pengalaman gue di Sydney sini, orang2 bule itu memang individualis untuk suatu hal, tapi mereka sangat bermasyarakat untuk beberapa hal. Misalnya, orang2 bule di sini memang nggak care sama “kita kerja di mana, gajinya berapa, tinggal di daerah elit atau kagak, main ke rumah tetangga ngobrol ngerumpi + kasih/kirim makanan ini itu ke tetangga tidak ada dalam kamus mereka, minta tolong ini itu juga nggak ada karena budayanya mereka adalah kerjain apa2 sendiri dulu sebelum minta tolong ke orang lain, dsbnya”. Tapi, kalau masalah sopan santun, ramah tamah, ketulusan hati, dan emphaty, menurut gue mereka jauuuuuuuuuuh lebih baik dari orang2 kita. Orang bule kalau ngebantu tidak pernah setengah2. Tidak pernah karena merasa tidak enak, apalagi kasihan. Mereka akan membantu apa saja ketika kita minta bantuan. Karena memang orang kalau udah minta bantuan di sini, berarti tuh orang emang udah nggak sanggup ngerjain sendiri. Dan membantu nya pun bener2 maksimal, tulus, dan jelas2 bukan untuk cari muka dsbnya. Benar2 nggak perhitungan deh kayak sebagian besar orang kita. *Gue dulu pernah sharing flat sama bule, jadi cukup tahu culture mereka*. O iya, siapa bilang kalau masuk rmh sakit di Indo resepsionisnya nyengir lebar2 kasih senyum? To be honest, gue belum pernah loh dapat senyum seperti itu. Beda banget sama di sini. Kalau kita naik bus, hampir semua orang (karena jadi ngikut terbawa western culture), ketika turun bus say “thank you” ke supir busnya. Papasan di jalan, mereka sambil tersenyum manis dan nyapa ramah “Good morning! How are you today? etc”. Kalau habis ngapa2in (misal habis belanja, ada urusan, dsbnya), mereka selalu memberi nice words “Have a nice day! Enjoy your weekend. Have a lovely night! etc”. Pokoknya beda bangetlah. Waktu gue di Portugal dulu juga orang2nya ramah2 kok. Nggak tau juga sih kalau di Eropa yang lain. ;)

    • Kalo di Jeddah gimana orang2nya say? Orang A**b di sini (kayaknya nggak ada yang dari Saudi sih, tapi dari Liban*n) pada disebeli banyak orang, termasuk gue sering sebel. Hehehe. Karena sebagian besar nggak bisa tertib, suka seenaknya, agresif, sombong2, dan tempramental. Tapi katanya sih memang ini adalah karakter asli mereka, alias emang dari sononya kayak gitu. Jadi mau diapain lagi? Tapi terlepas dari karakter mereka yang suka nyebelin itu, gue tetap bersyukur ada mereka di sini. Di Sydney sini ada banyak mesjid, pakai jilbab nggak dilarang, nyari apa2 (e.g. beef, chicken, bumbu2, dan bahan makanan laiinya) halal gampang banget, dan pemerintah sangat respek sama semua penganut agama termasuk muslim. Jadi, Alhamdulillah bangetlah.

      • Iya tuh, orang arab gag kenal kata antri hihihihihi… pada umumnya emang agak temperamental dan gag tertib tapi ada juga yang baik. Mungkin gw hoki nih, seringnya berurusan langsung ato dibantuin ama orang Arab yang baik-baik ^_^ , biarpun pastinya gw percaya yang belagu juga banyak hahahahahaha….

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s