Kerja di Penitipan Anak di Amerika Serikat

Saya datang ke Fairborn, Ohio pada akhir November 2010 dan baru mendapat izin kerja pada bulan Maret 2011. Setelah sempat bekerja di sebuah thrift store pada Summer 2011, pada awal September 2011 saya mulai bekerja di sebuah penitipan anak (daycare). Saya senang dan bahagia bersama anak-anak, itulah alasan mengapa saya bekerja di daycare.

Sebelum bisa bekerja di daycare, proses rekruitmennya cukup ribet jika dibandingkan dengan di Indonesia. Saya harus melewati tes kesehatan (termasuk rontgen) untuk membuktikan saya bebas TBC dan penyakit menular lainnya. Semua itu saya lakukan dengan biaya pribadi. Beruntung saya bisa melakukan tes kesehatan di puskesmas dengan biaya terjangkau. Selain itu saya pun harus lolos background check dari kantor kepolisian guna mendapatkan keterangan bebas perkara kriminal selama lima tahun terakhir. Syukurlah seluruh tes bisa saya lalui dengan lancar dan saya pun diterima bekerja. Bila tidak, melayanglah US Dollar yang sudah saya keluarkan.

Selang satu minggu setelah diterima, mulailah saya bekerja. Saya diminta mencoba semua ruang pengasuhan untuk mengetahui di ruang mana saya cocok bekerja. Saya pun memasuki ruang infant, toddler, preschool, bahkan school-age (di sore hari).

Karena tak punya latar belakang pendidikan anak usia dini dan belum berpengalaman mengurus anak-anak, saya merasa kewalahan ketika mengasuh kelompok toddler dan preschool. Apalagi hampir semua anak di daycare tersebut berasal dari keluarga yang nada suara orangtuanya keras. Sementara suara saya datar ala orang Asia yang tentu saja kurang berwibawa di depan mereka. Akhirnya saya pun mantap memilih ruang infant sebagai tempat kerja saya. Alasannya karena bayi tak pernah protes dan hitung-hitung saya belajar mengurus bayi sebagai bekal saat dikaruniai anak nanti.

Salah Satu Sudut Ruang Infant di Daycare Pertama

Rasio maksimal antara pengasuh dengan bayi di ruang infant menurut peraturan Ohio adalah 1:5. Jadi sudah sangat biasa bila saya harus mengurus empat atau lima bayi sekaligus. Saya harus menemani mereka bermain, memberi stimulasi jika dibutuhkan, menyuapi dan memberi susu, mengayun mereka menjelang tidur, dan tentu mengganti diaper mereka setidaknya dua jam sekali (kecuali jika mereka buang air besar, tentu diaper harus langsung diganti). Awalnya saya mendapat pendampingan, tapi ketika sudah dianggap mampu saya pun dibiarkan bekerja sendiri.

Setelah enam bulan bekerja disitu, saya merasa mentok. Saya berinisiatif mencari tambahan ilmu di tempat lain dan melamarlah saya sebagai volunteer di daycare kampus suami. Daycare tersebut merupakan salah satu daycare terbaik di kota tempat saya tinggal. Saya tahu kapasitas saya, sehingga tak berani melamar sebagai pegawai. Saya berpikir, hanya dengan menjadi volunteer (seminggu sekali, misalnya), saya akan tetap bisa mendapatkan pengalaman. Ternyata mereka melihat pengalaman saya di daycare sebelumnya dan menawari saya bergabung sebagai guru pengganti. Alhamdulillah, kesempatan baik itu tentu tak saya tolak.

Di minggu pertama saya hanya bekerja 6 jam, minggu kedua saya bekerja 16 jam, dan mulai minggu ketiga saya bekerja 32 jam. Sebagai substitute teacher, saya tak punya jadwal tetap. Kapanpun dan dimanapun dibutuhkan, saya harus siap membantu. Saya pernah berada di ruang infant, toddler, maupun preschool. Pada awal April sampai dengan akhir Mei 2012, saya sempat menetap di salah satu ruang toddler, karena Lead Teacher di ruang tersebut mendadak pindah ke kota lain. Saya diminta berada disitu seharian penuh selama empat hari dalam seminggu, sampai mereka mendapatkan guru baru. Saya pun tersadar, ternyata di daycare sekarang saya tidak mengalami masalah dengan para toddler itu. Saya begitu menikmati kebersamaan dengan mereka. Berbeda dengan yang saya rasakan di daycare sebelumnya, dimana saya merasa kewalahan menghadapi kelompok toddler dan preschooler. Mungkin karena lingkungan kerjanya berbeda dan saya sudah memiliki sedikit pengalaman mengurus anak-anak.

Karena pernah ditempatkan di ruang toddler dan preschool, saya mengamati bagaimana anak-anak dibiasakan menjalani rutinitas yang sama setiap harinya. Hal itu untuk melatih anak berdisiplin dan memudahkan anak untuk memprediksi aktivitas apa yang akan dilakukan setelah satu aktivitas selesai. Anak-anak pun dibimbing untuk mengulang-ulang kebiasaan yang baik (repetition), misalnya: mencuci tangan dan menggunakan kata yang sopan saat meminta sesuatu. Kata sorry, please dan thank you merupakan tiga kata yang mewarnai keseharian mereka di daycare. Untuk ruang infant dan toddler ada laporan harian yang diberikan pada orang tua. Guru juga rutin melakukan observasi pada setiap anak yang nantinya akan dibicarakan hasilnya dalam Parent Teacher Conference (PTA) yang diadakan setidaknya 3x/tahun. Dalam PTA, guru dan orang tua membahas detail mengenai perkembangan anak selama caturwulan tersebut.

Salah Satu Tulisan Saya Di Daily Board

Tarif penitipan anak di Amerika Serikat memang mahal. Bagi keluarga kurang mampu, memang ada diskon bahkan bisa gratis karena biaya ditanggung oleh negara bagian (state), namun fasilitas seperti itu tidak didapatkan dengan mudah. Bagi para orang tua yang tidak mendapat diskon, mereka harus rela merogoh kocek sekitar $1.000/bulan untuk infant dan $800/bulan untuk toddler serta preschooler.

Melihat kondisi tempat saya bekerja sekarang, mahalnya tarif tersebut diimbangi dengan fasilitas daycare yang sangat memadai. Adanya ketersediaan nutrisi sehat yang dimasak langsung di dapur oleh koki yang memiliki pengetahuan tentang gizi dan latar belakang pendidikan para guru/pengasuhnya yang rata-rata Bachelor Degree – Early Childhood Education (untuk posisi Lead Teacher) dan memiliki Child Development Associate (CDA) Credential (untuk posisi Assistant Teacher).

Agar bisa memberikan pengasuhan dan pendidikan terbaik bagi anak-anak, daycare tempat saya bekerja juga memiliki training center yang secara rutin mengadakan pelatihan dengan berbagai topik seputar pendidikan anak usia dini. Pelatihan tersebut ditujukan bagi guru-guru di daycare tersebut maupun untuk guru-guru dari daycare lain. Sebagai staf, alhamdulillah saya bisa mendapatkan pelatihan-pelatihan tersebut secara gratis.

Menuliskan pengalaman saya bekerja di daycare, mengingatkan saya bagaimana working moms di Indonesia terkadang merasa kesulitan mencari asisten rumah tangga yang bisa dipercaya mengurus anak-anaknya. Bila sistem penitipan anak di Indonesia bisa sebagus di negara-negara maju, mungkin orang tua tidak perlu lagi pusing mencarikan “mbak” untuk putra-putrinya. Apalagi jika penitipan anaknya memberikan juga dasar pendidikan agama, sehingga anak-anak bisa tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan sekaligus memiliki iman yang kuat.

About these ads

15 thoughts on “Kerja di Penitipan Anak di Amerika Serikat

  1. halo mbak tuntas, mudah2an baca comment saya ya. cuma penasaran aja, di post sebelumnya mbak kan pakai jilbab. ada masalah nggak waktu apply kerja, apalagi di tempat layanan publik seperti daycare. maksudnya kan biasanya mungkin saja ada orangtua yang keberatan kalau anaknya diasuh atau dididik oleh yang berbeda agama, terutama kadang kan di negara barat ada saja yang aneh2.

  2. Halo mbak Dinni. Salam kenal ya. Alhamdulillah jilbab yang saya kenakan tidak menjadi masalah. Awalnya ada seorang ibu yang sepertinya tak begitu ramah pada saya. Dia tak pernah berkata apapun pada saya. Saya seperti dicuekkin :) Kalau ayahnya sih tetap ramah.
    Lalu saya coba cari tahu latar belakang si anak melalui data pribadinya. Ternyata anak itu dari keluarga Yahudi. Jadi saya maklum mengapa Ibunya bersikap seperti itu pada saya. Mungkin ia takut anaknya akan mendapat pelayanan tak baik karena saya seorang muslimah.
    Alhamdulillah, lama kelamaan si Ibu berubah sikap setelah secara konsisten saya tunjukkan padanya kalau saya tak pernah membedakan anak-anak berdasarkan agamanya. Bagi saya semua anak sama, mereka konsumen yang harus saya layani secara maksimal. Mudah-mudahan saja kedepannya juga akan baik-baik saja.

  3. Hallo Tuntas, mau tanya nih ttg makanan di daycare sana. Lunch untuk toddlernya dari daycare atau bawa sendiri dari rumah? Kalo dari daycare gimana pilihan menunya? trus ada anak muslim ga dsana? kalo misalnya mam sandwich apakah disediakan salami/daging halal? kalo anakku di daycare dikasih sandwich tapi ga pake daging, karena anak muslim di daycare cuma 2 orang, jadi mereka ga sedia daging halal.. :)

    • Halo juga, mbak. Maaf baru baca komennya. Kalau untuk anak2 di atas 1 thn, baik breakfast, lunch, maupun snack sore disediakan sama pihak daycare. Tiap minggu pihak daycare membagikan fotocopy menu-nya. kalau ada menu yang tidak cocok (misal karena mengandung daging (baik daging babi maupun bukan), orang tua boleh membawakan penggantinya. Disini kan ada anak2 dari keluarga Vegetarian (terutama dari India) dan Yahudi. Mereka juga punya restriksi makanan seperti halnya muslim. Pilihan lainnya, tinggal sampaikan saja pada guru/pengasuh bahwa si anak tidak boleh mengonsumsi bahan tertentu. Jadi pada saat jam makan, anak2 dengan batasan tertentu tersebut tidak akan diberikan makanan yang tidak seharusnya ia konsumsi.

  4. hebat mba, klo boleh tahu apa mba punya anak? terus klo mba kerja di day care anaknya denagn siapa?

    someday ,.. saya juga punya cita2 buat daycare di indonesia.. :D

    • Halo mbak Hana. Saya belum punya momongan, mbak. Mohon doa semoga segera diberi disaat yang tepat :) *curcol*
      Sekedar berbagi, beberapa rekan guru ada yang menitipkan anak2nya di daycare. Ada juga yang menitipkan anak2nya di daycare yang lain, karena tidak ingin ada perasaan2 tak enak pada rekan kerja bila terjadi sesuatu pada anaknya. Ya tergantung pilihan masing2.
      Semoga cita2 punya daycare-nya terkabul ya, mbak. Indonesia masih butuh banyak daycare :)

  5. Salam kenal mbak,aku pengen skali bisa krj d amerika tapi aku denger2 untuk masuk amerika aja ssh nya bkn main aplg buat cri krj,bekerja d amerika adlh impian aku sejak dl rasanya mimpi itu gakan prnh bisa jd knyataan krn ortu qu jg melarang aku krj d luar negri,nasib…nasib…!

  6. Siang Mba, saya dan suami ada rencanya mau ke amerika untuk bekerja bersama anak kami yang usianya baru 9 bulan. Berdasarkan pengalaman Mba yang sudah tinggal di amerika. Kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk keperluan anak kamu per bulan?

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s