Berbelanja di Pasar Tradisional Suly, Iraq

-Ditulis oleh Istiadzah Rohyati-

Sewaktu tinggal di Jakarta, saya paling jarang berbelanja ke pasar. Pasalnya, di pasar itu selalu ramai (ya iyalah). Dan kebayang sendiri kalo bawa anak-anak rempongnya kayak apa.

Jadi, biasanya saya belanja kebutuhan sehari-hari di warung sayur dekat rumah, dan belanja bulanan ke supermarket. Belanja di supermarket lebih menyeangkan jika membawa anak-anak, meski pun harus buru-buru karena biasanya suka ada aja gitu yang rewel.

Nah, di Suly, seminggu sekali saya biasa belanja ke supermarket yang berbeda, dan tidak ada satu pun di antara supermarket tersebut yang menyediakan semua kebutuhan saya dengan lengkap.

Misal, minggu ini saya ke supermarket A ada bawang merah, belum tentu di supermarket B dan C ada. Misal lagi saya ke supermarket B, di sana santan, tapi di supermarket A dan C tidak ada. Nah, kalo saya ke supermarket C sayur dan buah-buahannya selalu lebih lengkap dan fresh ketimbang supermarket lainnya, tapi ada satu-dua barang yang tidak ada padahal saya butuh.

Bingung, kan?

Jadinya kalo mau belanja kudu dikira-kira dulu dimana yang bisa mencukupi kebutuhan kita?

Bagi kebanyakan orang (ibu-ibu khususnya), belanja di pasar lebih menyenangkan karena barang yang ingin dibeli selalu ada dan fresh, bisa memilih sendiri, dan yang paling utama adalah bisa ditawar. Poin-poin inilah yang membuat saya semangat mengajak suami berbelanja di pasar tradisional Suly, sekaligus ingin tahu seperti apa keadaannya.

Yah, walaupun pada awalnya suami menolak karena katanya ga bakalan bisa milih sendiri, tapi saya tetep penasaran. Seharusnya pasar lebih lengkap, kan?

Pasar di Suly enak, bersih, jalanan di dalam pasarnya pun tidak (begitu) becek, luas, tidak sempit. Meski begitu, tetep aja namanya ramai orang jadi kalo jalan kudu megangin anak kuat-kuat. Pasarnya luaaaas banget, dan dibagi beberapa bagian. Jadi ada kayak bunderan gitu di tengah jalan, yang di sekelilingnya itu pasar.

Kalau ke kanan ada toko-toko perlengkapan bayi, ke kiri ada roti-roti dan pakaian di pinggir jalannya, lurus ada beberapa gedung yang isinya toko-toko juga, di dalam (gang) jalanannya ada sayur dan daging, dan di dalam-dalamnya lagi ada perlengkapan rumahtangga, di pinggir jalannya ada toko-toko handphone yang di depannya berjejer tukang penukar mata uang.

Nah, bingung kan bayanginnya? Paling tidak tempat-tempat itulah yang saya tangkap sejak beberapa kali ke pasar beberapa bulan ini.

Katanya, kan, di Suly ini aman. Memang benar, saya tidak pernah merasa was-was dan takut kalo bepergian. Ga pernah takut dijambret atau dicopet (ya iyalah orang ga pernah bawa tas dan dompet :p). Tapi emang bener, rasanya aman-aman aja kalo pergi-pargi.

Dan saking amannya, tukang-tukang penukar mata uang ini sedikit yang sewa tempat di toko. Kebanyakan mereka berjejer di pinggir jalan, sama kayak penjual pulsa. Bedanya, pejual pulsa yang dipajag di mejanya kan voucher pulsa, nah kalo penukar mata uang ini yang dijejer di mejanya duit-duit Dinar Iraq. Ga jarang juga si tukangnya ini pergi ngobrol-ngobrol ke dalam toko sementara meja yang berjejer duti-duit tadi itu ditinggalin begitu aja. Dan ga ada orang yang mau malingin itu duit-duit. Salut saya.

Duit digeletakin gitu aja #MoneyChangerPinggir Jalan

Pertama belanja, masih pake bantuan suami untuk nanya-nanya harga (sampe sekarang juga sih, suka lupa soalnya :p). Belanja sayuran, sayuran apa? Ga ada sayuran di pasar! Cuma ada kol putih, kol ungu, kembang kol, wortel, kentang. Kalo itu sih di supermarket juga ada. Ga ada yang beda apa dari supermarket, ya? Ah, ada.

Saya nemu sayuran yang hijau, tapi ga tau apa namanya. Bentuknya mirip bayam tapi berdaun lebar, udah diiket dalam jumlah yang banyak. Ga ada brokoli, ga ada bayam, kangkung apalagi. Saya beli deh tuh sayuran yang mirip bayam tadi seiket, yang pas dicoba disayur bening semua komponen sayur termasuk kuahnya jadi pahit semua. Sejak itu saya ga pernah mau lagi beli-beli sayuran yang ga tau namanya.

Kesempatan berikutnya ke pasar lagi, saya beli buah-buahan. Apa yang ada di sini? Buah ada pisang, apel, delima, dan ada buah yang bentuknya kecil berwarna merah pekat seperti apel washington tapi ga tau apa namanya. Belajar dari pengalaman “bayam jadi-jadian” tempo hari, saya ga mau beli itu buah. Akhirnya pilihan jatuh ke pisang (lagi).

Saya samperin pedagang pisang, saya tanya berapa harganya, lalu saya pilih-pilih. Ketika sedang asyik-asyiknya memilih, si penjualnya langsung ngasih isyarat “ga boleh” terus masukin pisang yang dia ambil sendiri seenaknya ke dalam plastik. Hah?

Saya membayar pisang tersebut dengan terheran-heran, ditambah lagi setelah saya periksa pisangnya ada yang kematengan. Ini yang diwanti-wanti sama suami saya beberapa waktu lalu. Penasaran saya terbayar, saya tidak bisa memilih-milih sendiri pisang yang bagus buat saya.

Belakangan baru saya ketahui, minggu kemarin, yang biasanya saya paling jauh cuma sampe masuk ke tempat sayur dan daging, begitu keluar dari situ langsung pulang. Kalau ke kiri dari situ masih puanjaaaannggg lagi perjalanan si pasar ini.

Masih ada toko-toko handphone dan ada tangga ke bawah dan atasnya lagi, yang entah isinya apa lagi. Fiuhh. Dan ini juga keliling-kelilingnya terpaksa karena mau cari tukang service Blackberry. Keiling-keliling, karena semua toko handphone yang kita kunjungi ga ada yang bisa nyerpis itu BB, akhirnya kunjungan yang terakhir bisa dia. Alhamdulillah lebih murah dari perkiraan awal yang tadinya bakalan abis US $100 jadi cuma US $60.

Meski sudah tau keadaan pedagang di pasar seperti itu, tetep aja saya selalu belanja ke pasar paling tidak sekali dalam sebulan. Yah, itung-itung olahraga lah. Lumayan jalan kaki ngelilingin pasar sambil gendong Shaki atau dorong I’am di strollernya, hehehe. Paling seneng kalo abis belanja ke pasar biasanya pulangnya mampir makan siang di resto internasional, yang rasanya banyak yang cocok di lidah Indonesia pastinya ;p

**mohon maaf, kali ini ga bisa nampilin foto-fotonya karena memang saya dan suami tidak sempat motoin pasar (u know lah ke pasar bawa dua krucils kayak apa rasanya), dan lagi meskipun aman, bukannya kami takut dijambret pas ngeluarin kamera, tapi lebih ke pengamanan, takutnya ntar kami dikira mata-mata lagi moto-motoin pasar. Kan ga lucu aja lagi enak-enak moto tau-tau ditangkep ama intel. Harap maklum yah :D**

U can visit my blog at http://tulisansiisti.blogspot.com/ and my account http://www.facebook.com/istiadzahrohyati.zakaria

About these ads

5 thoughts on “Berbelanja di Pasar Tradisional Suly, Iraq

  1. Hallow mbak Isti, salam kenal aku Pita dari Belanda. Wah asyik yah bisa nemu pasar tradisional di negara lain. Aku juga suka belanja di pasar tradisional di sini. Bisa di liat di ceritaku ttg De Haagse Market, Den Haag :)
    Oya aku ada saran….di tiap cerita mungkin lebih enak kalo ditulis nama penulisnya (bisa di awal atau di akhir cerita, seperti postingan2 sebelumnya). Jadi kalo mau tau siapa yg nulis cerita ga perlu buka FB hehe (karena tiap ada cerita baru pasti di posting ma mbak Jihan di FB).
    Thanks ya mbak atas sharingnya, ditunggu cerita2 lain ttg Iraq…:D

  2. Halo Mba Pitachu, salam kenal dari Suly ya…. Iya, mba, bener. AKu juga baru kepikiran pas ada yang komen di ceritaku sebelum ini, aku baru nyadar ga ada namaku di ceritanya, jaginya kan bikin bingun orang ya.. Ini baru sempat buka lagi pengen edit2, yah dari kemaren si krucilsku selalu membajak laptop, huhuhu…
    Thank’s mba sarannya :)

  3. Bagaimana kalo jumlah uang yang tercecer di jalan itu pecahan rupiah berwarna biru alias 50.000? Pasti belum semenit udah ada yang ambil deh. Zaman sekarang uang recehan sering dianggap ga ada artinya. Jadi terkadang walau uang itu jelas cecer di jalan, orang-orang yang lewat ngebiarin aja uang itu tergeletak. Pada malu kali ya? Uang seratus perak aja dipungut. Padahal 1 juta kalo kurang 100 juga ga genap sejuta tuh. Aku si cuek-cuek aja mungut uang receh yang jatuh di jalan. Ya lumayan buat genapin belanja di warung atau toko-toko kecil yang masih mengenal ratusan rupiah. Atau buat kasih ke pengamen, hehe. Pelit ya? Ya, di Solo kan lima ratus masih berarti juga buat genapin ongkos bus yang dua ribu lima ratus. Atau kalau enggak ya buat beli jajan anak SD macam gery chocolatos hihi. Atau buat nambah lauk tempe goreng sepotong di warung Mbak Nur tempat aku tiap hari makan. Tapi aku ga segitu teganya belanja di warung cuma 500 perak lah.

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s