Memilih Day Care di Suly #TrialDayCare

-Ditulis oleh Istiadzah Rohyati-

Anak pertama saya, I’am, baru akan berusia tepat 3 tahun esok hari. I’am anak yang aktif, super aktif malahan. Di usianya yang baru akan 3 tahun ini, ia sudah bisa berinteraksi dengan kartun-kartun keluaran Nickelodeon, Jr., seperti UmiZoomi, Dora, Diego. Sudah mengerti kosakata bahasa Inggris yang sering digunakan dalam tiap episode kartun tersebut. Alhamdulillah, anak saya termasuk anak yang cepat nangkap :)

Meski aktif, ia termasuk anak yang moody, gampang bosan. Jika kartun kesayangannya tidak ada, biasanya dia minta untuk diputar lagi. Lah, itu kan udah jadwal dari sananya, tugas saya lah memberi jawaban yang mudah dan bisa diterima akal sehatnya. Saat tiba bosannya, dia pasti teringat gadgetnya: tablet. Sejak mahir menggunakan tablet, tiada hari tanpa tablet, dan sepulang Papanya dari kantor, bukan tangannya yang diminta untuk salam, tapi laptop! Oh, anak…

Dan belakangan, karena hp Papanya udah pake si robot ijo, ganti deh yang diminta bukan laptop lagi, tapi hp Papa. Dan kalo udah mainan gadget, suka marah-marah sendiri, suka kesel sendiri, lama-lama gadgetnya dilempar, dan terakhir dimarahain Mamanya plus dapat hukuman di pojok.

Belum lagi kerjaan tangan dan kakinya yang super iseng. Ngisengin adeknya, yang didorong lah, dipukul lah, ditabrakin lah, diapain lah sampe adeknya nangis. Tambah lagi ada barang apapun itu di depan kakinya langsung ditendang-tendang. Ada barang deket tangannya diambil terus dilempar-lempar. Ga tanggung-tanggung, lemparinnya itu ke atas sampe kena kap lampu! Abis itu Mamanya marah-marah lagi, dan dapat hukuman pojok lagi.

Dari sinilah muncul niat untuk menyekolahkan I’am. Pertama, harus cari yang gurunya bisa berbahasa Inggris. Meski I’am belum bisa berkomunikasi langsung menggunakan bahasa Inggris, paling tidak saya bisa nyambung sama gurunya. Kedua, jam sekolah yang sebentar. Bukannya apa-apa, di Suly, rata-rata, karena mahalnya harga Asisten Rumah Tangga, jadi jadwal jam di sekolah-sekolah itu dari pagi sampai sore. Biasanya orangtuanya juga pada kerja.

Suami saya dapat referensi dari rekan kerjanya, ada preschool yang bagus dekat kantornya. Ia tahu karen tadinya sempat ingim menitipkan anaknya di situ, tapi sayang, jadwalnya hanya sampai jam 4 sore sementara ia pulang kerja jam 5 sore. Suatu hari ia menemani suami saya berkunjung ke sana untuk sekadar melihat-lihat dan bertanya-tanya sedikit tentang sekolahnya kepada gurunya. Dan sepulangnya dari sana, suami saya tampak bersemangat ingin menitipkan I’am di sana. Saya yang jadi ragu.

Ragu karena I’am belum bisa berbahasa Inggris. Ragu karena I’am masih nempel sama saya. Ragu karena jadwalnya sampai sore. Ragu karena banyak orang asing di sana. Ragu karena I’am masih on program toilet training, gimana caranya ngasih tau kalo dia mau pipis sama gurunya? Saya masih belum yakin sama diri saya. Ya, saya masih terlalu takut untuk meninggalkan I’am.

Hari berikutnya, saya berkunjung ke day care untuk melihat dan bertanya langsung pada gurunya. Sekaligus, biar I’am kenal dulu dengan lingkungan barunya. Begitu masuk pagarnya, kami disambut oleh playground di halaman depan.

Playground halaman depan day care yang tampak rapih dan welcome

Dari total sekitar 5 pengasuh yang ada, hanya 1 yang bisa berbahasa Inggris, namanya Hiro. Saya sudah menuliskan daftar pertanyaan sebelumnya supaya tidak lupa ketika bertemu dengan gurunya. Jadi, di sini ada lah Day Care, tempat penitipan anak.

Dari pembicaraan saya dengan Hiro, tidak ada peraturan khusus mengenai jadwal jamnya. Tidak masalah si anak mau diantar dan dijemput jam berapa. Yang pasti, day care-nya buka dari setengah 8 pagi, tapi baru mulai kegiatannya jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Setiap harinya saya hanya perlu membawakan baju ganti I’am saja di tasnya, tidak perlu bawa bekal karena mereka menyediakan sarapan, snack pagi dan siang, dan makan siang.

Di sana, anak-anak diajarkan bahasa Inggris, dari mulai abjad, berhitung, mengenal nama buah, menulis abjad, sampai bernyanyi. Semua menggunakan bahasa Inggris, kecuali pengantarnya, bahasa Kurdi. Mereka punya beberapa ruangan, salah satu yang besar dan terbesar adalah ruang bermain, ada prosotan dan berbagai macam boneka dan mainan lainnya.

Di sebelah kirinya sebenarnya ada beberapa meja-kursi plastikm tapi tidak sempat saya foto

Lalu ada ruang makan, yang digunakan pada waktu sarapan, makan camilan pagi, dan makan siang. Setalah jam makan siang berakhir, ruangan ini dibersihkan. Meja-mejanya disusun, begitu juga dengan kursinya, dan berubah fungsi menjadi ruang bermain. Tempatnya rapih, saya suka.

 Ruang makan ketika jam makan siang selesai. Itu Hiro yang pakai baju merah *ga keliatan mukanya yah hehe*

I’am (bawah), dan di depannya Shaki, sedang sarapan

Lho, tadi kan katanya ada camilan siangnya ya? Makannya dimana? Ya, betul. Makannya tidak di ruangan tadi, karena pada siang hari jumlah anak-anak sudah berkurang dikarenakan sudah ada yang dijemput pulang oleh orangtuanya, jadi makannya di ruang tengah, duduk di kursi-meja yang biasa digunakan untuk belajar menulis.

Anak-anak sedang makan camilan siang, waktu itu jadwalnya sup krim. Hebat, mereka semua makan sendiri, ga ada yang disupain kecuali yang under 2y, dan makannya pun ga berantakan, ga rusuh, semua habis, mandiri dan tertib. Salut.

Ini kursi-meja yang tadi, digunakan lagi untuk belajar. Itu Shaki yang paling kecil pake baju pink *semuanya juga pake pink*

Mereka juga punya ruang tidur. Tapi untuk anak di atas 2 tahun, tidak ada jadwal tidur. Hanya anak yang masih di bawah 2 tahun saja yang bleh tidur. Sayang tidak sempat motoinnya, karena ruangan ini adanya di lantai atas. Tempat tidurnya pun menggunakan baby box, dan ada sekitar 9-10 buah. Ada lagi ruang bermain untuk anak-anak di bawah 2 tahun yang digunakan jika anak-anak di atas 2 tahun sedang belajar di kelas. Kelasnya juga tidak sempat saya foto, mungkin lain kali ya.

Ruang bermain untuk anak-anak di bawah 2 tahun. I’am masih belum mau ikut kelas belajar, jadi dia selalu mengajak saya main di ruangan ini karena ada lorong-lorongannya.

Mereka menyediakan loker di ruangan khusus untuk menyimpan tas-tas anak-anak. Ada lagi lantai bawah, itu tempatnya dapur, tapi saya tidak pernah mengunjunginya, hehe. Untuk toilet, cukup bersih. Mereka menyediakan beberapa pasang sandal anak-anak dan 1 pasang sandal dewasa untuk masuk ke dalam toilet. Jadi, bisa bebas najis. Senangnya :)

Apa lagi yah? Oh ya, mereka juga punya 4 kamera CCTV yang dipasang di ruang main anak-anak di bawah 2 tahun, di kelas belajar, di ruang tidur, dan playground halaman depan. Jadi ketika bayi-bayi bangun, mereka dengan sigap langsung ke atas untuk membawa bayinya ke bawah dan bermain.

Ini anak lucu banget kayak boneka, gemes saya. Dia datang terlambat, lalu disuruh gurunya duduk dulu dan nurut, ga kemana-mana kalau belum disuruh lagi. Namanya Ziukh, dalam bahasa Inggris artinya silver.

Jadi, saya tahu sekarang kenapa kemarin suami saya begitu antusias ingin memasukkan I’am ke sini. Karena memang tempatnya nyaman. Waktu saya berkunjung yang niatnya hanya ingin bertanya-tanya saja, jadi lama mampirnya karena anak-anak saya senang, khususnya Shaki. Shaki tampak mudah beradaptasi di lingkungan baru hingga Hiro senang main dengannya. I’am? Masih malu-malu dan selalu mengajak saya masuk ke dalam ruangan.

Oh ya, kata Hiro, saya boleh menikmati masa-masa trial di sini, ups anak saya maksudnya. Jadi mereka memberikan waktu 1 minggu untuk saya ikut menemani anak-anak di sana, dan setelahnya baru mulai pembayaran, saya pun tidak perlu menemani lagi. Karena Shaki ikut senang juga, jadilah kami mendaftarkan untuk 2 anak. Tapi hari-hari berikutnya cukup sulit karena Shaki memang masih ngASI, jadi dia tidak bisa saya tinggalkan. Kami putuskan I’am saja yang ber”sekolah” di sana.

Mengenai pembayaran, bisa dibayar bulanan. Biayanya US $150 per anak. Cukup murah, dibanding sekolah internasional di sini yang mengharuskan pembayaran per tahun dan dilakukan di muka, yang menghabiskan kocek sekitar US $6000. Wow! Baiklah, petualangan dimulai :)

Di taksi, anak-anak kecapekan dan tertidur sepulang sekolah. Itu Shaki masih ada coklat di mulutnya :D

U can visit my blog at http://tulisansiisti.blogspot.com/ and my account http://www.facebook.com/istiadzahrohyati.zakaria

About these ads

One thought on “Memilih Day Care di Suly #TrialDayCare

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s