Tehran, a City beyond Our Imagination

Ditulis oleh : Fitri Hastuti

Setibanya di Iman Khomeini International Airport, pada bulan puasa September 3 tahun lalu udara masih terasa agak panas. Meskipun seharusnya sudah masuk musim gugur dengan hawa honak (sebutan orang sini kalo cuaca enak, gak panas banget, gak dingin banget), tapi karena letak bandara internasional ini agak jauh di selatan Tehran dengan perjalanan kurang lebih 1 jam, menyebabkan udara pegunungan Alborz sudah terkontaminasi udara gurun.

(Bandara Internasional : Imam Khomeini Airport, ilustrasi gambar dari wikipedia)

Selama perjalanan dari bandara ke hotel tidak henti-hentinya kami berdecak kagum akan kondisi Tehran, jauh deh sama Jakarta. Meski pun kategorinya Negara embargo tapi jalan-jalannya sangaaat bersih. Eh, itu sih gak ada hubungannya sama embargo ya.. :)  Bandung yang terkenal dengan semboyannya sebagai Kota Kembang juga lewaaatt.. Pemerintah Kota Tehran berhasil menyulap gunung-gunung kering menjadi penuh dengan pohon dan bunga, tidak ada taman tanpa rangkaian bunga yang indah, tulip bukan lagi dominasi Negara Belanda. Berhiber alias Bersih Hijau Berbunga pas untuk Tehran jika sedang musim semi.

Tapi selama dalam perjalanan itu kami pun dapat pelajaran baru mengenai mobil-mobil di Tehran, mobilnya pada nggak punya rem.. gila, ngebutnya luar biasa, supir bis Kopaja aja mah lewat juga. Kurang pas mungkin ya, lebih tepatnya semua supir males nginjek rem apalagi kalo supirnya perempuan, beeuuhh.. udah hobinya sembalap, pun lebih jawara jalanan di bandingkan yang laki-laki.

Tapi kita juga harus mengakui kalau keturunan ras Arya ini punya keunggulan lebih dibandingkan kita, badannya tinggi dan sangat enak dipandang mata. Tapi ini kesan pertama lho, kesan selanjutnya baca lagi yaa. Kaum lelaki di Tehran bisa dikategorikan metroseksual, itu tuuh sebutan untuk laki-laki kayak Beckham yang sangat memperhatikan penampilan.. rambut klimis, jenggot terpapas rapi, jas mengkilat, dan tidak segan menggunakan kemeja atau kaus warna merah muda dan ungu.. amazing right? Haha..

Tapi itu nggak berbanding lurus dengan rutinitas mandi lho ya.. orang Iran terkenal jarang mandi, seminggu paling 2 kali. Kebayang kan kayak apa ‘wangi’nya kalo pas musim panas mereka lupa pake parfum. Kenyataan yang sama juga teraplikasikan untuk para wanita Iran yang cantik. Ke warung deket rumah, ke pasar sampe ke mal dandanan harus full, mau naik bis atau naik mobil sendiri ya sama aja, full make up. Full make up untuk siang hari terdiri dari: bedak ama lipstick, ini biasa yee. Juga gak ketinggalan eyeliner, blush on, warna-warna di kelopak mata, dan poni jambul. Yang bikin kagum adalah itu kok sempet pagi-pagi ya, pada bangun jam berapa? Susah dibandingin kalo sama diri sendiri yang pagi-pagi masih ribet ngurusin anak.

(ilustrasi gambar dari skyscrapercity.com)

Masih bingung dengan poni jambul? Begini penjelasannya. Setiap perempuan di Iran ketika sudah dewasa wajib menggunakan baju muslim, biasanya mereka menggunakan baju panjang sampai selutut, biasa disebut manto atau rufus, dan celana panjang. Sangat jarang terlihat perempuan Iran sehari-hari jalan di luar rumah menggunakan rok. Untuk penutup kepada mereka biasanya menggunakan beberapa cara:

i) kerudung segi empat yang disematkan didagu menyisakan terlihat sedikit rambut bagian depan seperti gaya Grace Kelly jaman dulu, namanya Rusari,

ii) kerudung segi empat yang disematkan ke dagu namun tidak ada sisa rambut yang terlihat, namanya Maqna’e,

iii) kerudung panjang seperti syal atau pashmina yang dililitkan ke leher, namanya Shal, dan

iv) pakaian nasional wanita muslim Iran yang disebut Chador berupa sehelai kain lebar, biasanya berwarna hitam, yang menjuntai menutupi kepala hingga kaki. Di bagian kepala biasanya ada karet agar chador tidak mudah lepas. Di bagian depan pada pada umumnya tidak menggunakan resleting, para wanita hanya memegang cadornya agar tidak terbang ketika tertiup angin. Sangat jarang mereka menggunakan peniti atau bros agar chador tidak lari ke mana-mana. Tetapi beberapa toko sudah mulai menawarkan chador yang ramah bagi pemakainya, dalam artian sudah menggunakan jahitan lengan dan resleting agar lebih leluasa memakai chador.

Kembali lagi ke poni jambul, banyak sekali para remaja yang mengekspresikan kepribadiannya lewat poni ini meskipun mereka tengah memakai rusari. Rusari sedikit diturunkan ke belakang, tidak sampai jatuh, sehingga poni yang disasak tinggi, disebut poni jambul, rambut yang dikeriting, dari keriting kering sampai keriting basah, sampai rambut yang dihighlight, dari merah sampai pirang, bisa dengan mudah terlihat. Tidak ketinggalan model rambut punk untuk perempuan pun masih matching dengan rusari.

Untuk urusan baju, harga baju di sini selangit dengan model yang cukup monoton. Baju-baju dipasaran bisa dibilang modelnya terstandarisasi, kalau gak mau dibilang gak ada inovasi. Baju berwarna polos panjang minimal setengah paha dengan ikat pinggang dan kancing di depan. Perbedaan antara satu toko dengan toko lain biasanya terletak pada hiasan kancing, ada kancing yang dibikin banyak di bagian depan atau kancing di taruh di lengan. Karena itu, biasanya the Haves Iran suka belanja ke Dubai dan Turki untuk urusan baju.

Harga baju yang selangit disebabkan di Iran gak ada industri tekstil dan garmen, semuanya impor. Biasanya mereka menggunakan kain hitam dari Jepang untuk membuat chador, atau bahan-bahan dari Turki dan Cina untuk pakaian lainnya. Ini yang bisa dijadikan peluang bisnis untuk Indonesia. Lebih baik jika kita pandai menjahit, bisa dijadikan bisnis sampingan.

Kalo ada jalannya pengen deh impor semua tukang jahit di Indonesia ke sini biar lebih inovatif semua baju-bajunya. Memajukan globalisasi skilled tailor dari Indonesia ke luar negeri.. mmm, gimana caranya?

2 thoughts on “Tehran, a City beyond Our Imagination

  1. Hoo, jadi mengerti kenapa dandanan temen2 Iran di sini “menor2”. Ternyata dah kebiasaan dari sana, saya pikir karena mereka dah di luar Iran, jadi lebih ekspresif dalam berdandan🙂

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s