Farshe Labhand, Smiling Carpet, Persian Carpet

Ditulis oleh : Fitri Hastuti

Judul itu saya ambil dari guru kelas Carpet Appreciation yang diselenggarakan DLG (Diplomatic Ladies Group) Tehran, yaitu Bpk. Mazandarani. Ya, kami anggota DLG pada bulan Januari 2011 kemarin berkesempatan bergabung di kelas yang diadakan sebanyak 5 sesi ini tanpa membayar alias gratis.

Bapak Mazandarani memiliki sebuah Galeri Karpet di daerah Shariati, salah satu pusat kota Tehran. Ia memang bukan pembuat karpet (carpet weaver), lebih tepatnya ia seorang pengusaha karpet yang berspesialisasi menjual handmade carpet, serta memiliki lisensi untuk melakukan ekspor ke luar negeri. Hal ini menjadi poin tersendiri bagi Bapak Mazandarani karena tidak semua pengusaha karpet memiliki lisensi untuk ekspor. Meskipun tidak dapat membuat handmade carpet sendiri, Bapak Mazandarani mampu membuat desain karpet yang cantik. Desainnya ini kemudian diserahkan kepada pembuat karpet untuk selanjutnya diolah hingga menjadi karpet yang bernilai seni tinggi.

Jangan main-main dengan handmade carpet karena harganya cenderung mahal. Bagaimana tidak, untuk membuat sebuah handmade carpet bisa memakan waktu 6 bulan hingga 2 tahun tergantung dari ukuran karpet dan detilasi desain.

Pengusaha karpet adalah sebuah pekerjaan yang sudah biasa di Iran. Seseorang yang memiliki usaha ini selain harus mempunyai modal yang besar juga harus memiliki jaringan usaha yang luas. Dalam artian selain mencari handmade carpet, baik yang second maupun yang baru, ke seluruh pelosok Iran sendiri, ia juga harus memiliki agen di setiap kota yang akan menjual kembali handmade carpet yang sudah mereka kumpulkan dari para pembuat karpet kepada agen yang lebih besar yang berada di kota-kota besar di Iran, salah satunya Bapak Mazandarani ini.

Entah karena aspek historis, keantikan, atau apanya, handmade carpet bekas harganya bisa lebih mahal dibandingkan handmade carpet yang baru. Sebagai orang yang baru belajar karpet saya juga tidak terlalu mengerti alasan utamanya.

Sebelum mengikuti kelas Carpet Appreciation dari Bapak Mazandarani, saya cenderung memilih karpet buatan mesin, karena menurut saya pasti akan lebih kuat kalau disimpan di Negara kita yang beriklim lembab. Maklum, saya cenderung malas dalam sisi maintenance. Tapi karpet buatan mesin cenderung lebih tebal dan berat, dan penyimpanannya tidak ringkas karena harus selalu digulung. Hal ini disebabkan karena pada bagian belakang karpet diberi lem agar karpet tetap kuat. Berbeda dengan handmade carpet yang lebih halus dan tipis sehingga satuan kilonya lebih ringan dan penyimpanannya pun lebih ringkas karena bisa dilipat.

And time goes by..  semakin diperhatikan dan dipelajari ternyata handmade carpet mampu membuat semua orang jatuh cinta. Dilihat, ditelisik, dibandingkan.. dan setelah dicermati dicermati, desain handmade carpet jauuuuhh lebih menarik, tidak akan ada yang sama antara satu karpet dengan karpet lainnya, kalo dipandang itu si handmade carpet, bisa-bisa kita senyum-senyum sendiri, sampai lupa suami. Aha.. inilah kenapa karpet Persia terkenal dengan sebutan si Smiling Carpet.

For additional information, ada lagi istilah City Carpet dan Tribe Carpet. City carpet seringkali disebut artist work sementara tribe carpet kerap dikaitkan dengan keunikan. City carpet dapat dengan mudah dibedakan dengan tribe carpet (setelah dipelajari lho.. ).

Motif pada city carpet biasanya harus straight, bermotif sama, berukuran sama, dan simetris, yaitu jika dilihat dari atas-bawah atau kanan-kiri, bentuk motif karpet akan sama serta jarak ‘margin’ juga harus seimbang dan lurus. Jika ada motif bunga di bagian atas karpet berjarak 25 cm dari sisi atas karpet maka motif bunga yang sama juga harus diletakkan di bawah dengan jarak yang persis sama. Jika ada satu city carpet yang motifnya tidak sama, tidak lurus, ukurannya berbeda, tidak simetris, atau warnanya tidak sama persis maka tidak bisa dihargai dengan pada harga yang seharusnya dan biasanya si pembuat karpet akan dikenakan pinalti. Motif pada city carpet biasanya adalah bunga, sementara tribe carpet biasanya bermotif binatang. Toleransi kesalahan pembuatan karpet pada tribe carpet lebih besar dibandingkan city carpet, kesalahan terkadang dianggap sebagai keunikan, karena karpet ini biasanya dibuat oleh orang-orang di pedesaan atau bahkan kaum nomaden dengan menggunakan kreativitas dan imajinasi yang tidak sama dalam menciptakan motif karpet dengan segala kelebihan dan keterbatasan pada kondisi alam masing-masing.

Harga city carpet biasanya lebih mahal dibandingkan tribal carpet, karena hal-hal di atas, and most of all, city carpet is a high work carpet.

Wah, udah deh pokoknya kalau kita sudah ngomongin tentang handmade carpet, we’re talking about art and antiques where price is determined by taste. Masih jauh deh dari jangkauan ilmu si pendatang baru ini, haha..

Nih temans, beberapa hal yang harus disimak jika ingin mengevaluasi si carpet :

  1. We should love the carpet. Iya dong, masa mahal-mahal kita nggak suka sama karpet ya. Karena si karpet itu seni, maka keindahannya menjadi relative, daya tarik desain dapat berbeda bagi satu orang dengan yang lainnya.
  2. Color. Handmade carpet menggunakan warna-warna natural, berbeda dengan machine carpet yang menggunakan pewarna buatan. Warna merah pada handmade carpet biasanya berasal dari buah delima sementara warna kuning berasal dari saffron. Selain itu juga harus dilihat apakah dalam proses dyingnya warna yang dihasilkan well done atau tidak.
  3. Work. Karpet dengan knot yang lebih besar pasti akan lebih mahal. Berdasarkan knot, karpet bisa dibedakan menjadi beberapa grup, yaitu grup A, B, C, dan D. Dalam 1 cm, Grup D memiliki 3 knot, grup C memiliki 4 knot, grup B memiliki 5 knot, sementara grup A memiliki 6 hingga 9 knot. Knot itu apa sih? Untuk mudahnya, knot bisa dilihat dari tampak belakang sebuah karpet, yaitu dengan memperhatikan alur vertical atas-bawah dalam satu sentimeternya. Jika dalam 1 cm, terdapat 4 garis vertical, maka disebut karpet tersebut memiliki 4 knot. Semakin banyak knot pengerjaan karpet akan lebih njelimet, makanya harga
  4. Material Used. Handmade carpet menggunakan bulu domba sebagai materialnya, sementara machine carpet menggunakan wool artificial yang telah mengalami proses sintesis. Karpet yang menggunakan bahan grade A pastinya akan lebih mahal dibandingkan dengan karpet yang berbahan baku grade B atau grade C. Tentu saja harga handmade carpet mahal karena wool yang digunakan sebagai bahan baku adalah Life natural wool, yaitu wool yang diambil dari domba yang disembelih dengan tujuan khusus kulitnya akan digunakan sebagai bahan baku karpet.

2 thoughts on “Farshe Labhand, Smiling Carpet, Persian Carpet

  1. Hiya, I am really glad I have found this information. Today bloggers publish only about gossips and internet and this is actually irritating. A good web site with interesting content, this is what I need. Thank you for keeping this site, I’ll be visiting it. Do you do newsletters? Can not find it.

    • Hi Naoma, U can get any updated info by ticking on the left column written : “Notify me of new posts via mail” … (below the comments). Speaking of which, are U Indonesian? since this blog is in Indonesian language😉. Anw, thanks for visiting ^_^

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s