Dari Teriknya Saudi Menuju Tentramnya Sydney

Ditulis oleh : Dwi Rukhaniati Ulya

Salam kenal. Nama saya Nia. Pengen ikutan nimbrung di blog nya mama Abil. Sekalian juga memenuhi request dari yang empunya blog untuk menulis serba-serbi hidup di luar negri.

Saat ini saya berdomisili di Sydney, Oz. Belum setahun sejak januari lalu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di negeri koala ini.
Sydney adalah kota ke-5 tempat saya bermukim, sedangkan Australia Negara sekaligus benua ke-3 yang pernah saya kunjungi.

Ada berbagai hal yang berbeda yang memperkaya pengalaman saya sehingga ingin saya berbagi dengan teman2 semua. Beberapa poin nantinya mungkin akan membanding2kan antara 1 kota dengan kota lain yang menurut saya menarik untuk ditulis.

Pertama kali saya datang ke Sydney pada bulan januari di tengah summer yang panas. Suhu terkadang bisa mencapai 40 ˚C. Dibandingkan suhu di Jakarta memang lebih panas, tapi belum seberapa bila dibandingkan dengan suhu di Jeddah terlebih lagi di Riyadh ketika summer yang rata2 bisa diatas 50 ˚C. Terasa membakar kulit dan muka terasa seperti di tampar angin panas dan kering. Tapi kebanyakan orang tidak merasakannya karena aktifitas didalam ruangan yang tentu saja berpendingin yang sejuk.

Di Sydney ini ketika suhu udara mencapai puncak summer cukup menyengsarakan. Karena kebanyakan rumah/unit/apartemen tidak berpendingin AC. Awalnya saya heran koq bisa, orang2 tahan dengan udara panas sedangkan dirumahnya jarang yang menggunakan pendingin ruangan. Dan memilih untuk berada di luar ruangan atau sekedar pergi ke mal terdekat untuk ‘ngadem’ sejenak.

Akhirnya saya mengetahui sebabnya. Dalam setahun di Sydney ini udara sejuk dan dingin berlangsung hingga 8 bulan dan sisanya hangat dan panas. Jadi tidak terlalu perlu untuk mengeluarkan uang lebih untuk pendingin ruangan. Selain menghemat energi listrik juga tagihan listrik tidak membengkak. Untuk masalah tagihan listrik ini, hal yang sangat bertolak belakang kodisinya dengan Saudi Arabia, yang tidak terlalu memusingkan besarnya tagihan listrik karena murah. Yang pada akhirnya terjadi pemborosan energy listrik.

Di Sydney ini ada pembagian daerah city dan suburb. City adalah pusat kota ditandai dengan bangunan tinggi dan suburb semacam kota administratif/distrik. Hayyu sebutan di Arab atau kabupaten/kecamatan kalau di Indonesia. Beberapa teman disini menyebut suburb dengan kampung.  Dan suburb berada disekitar city.
Hal yang terasa berbeda buat saya adalah masalah jalanan. Setelah beberapa tahun melihat jalanan yang lebar-lebar baik di Jeddah terlebih lagi di Riyadh yang hampir 90% jalanannya highway dengan 8 jalur. Di Sydney dan juga kota2 lain di Oz, jalan2 kebanyakan sempit. Hanya 2 jalur untuk 2 arah. Belum lagi area parkir di kanan kiri jalan yang menambah kesan sempitnya. Kecuali beberapa ruas highway yang memiliki 6 hingga 8 jalur. Meskipun sempit namun sangat teratur dan semua pengguna jalan mematuhi peraturan. Hampir di sepanjang ruas jalan penuh dengan rambu2. Dari mulai tanda batas kecepatan hingga area yang dibolehkan untuk parkir. Untuk memastikan keteraturan pengguna jalanan terutama area parkir di tepi jalan, ada ‘ranger’ (parking officer) yang siap dengan penalty notice nya bila ada mobil yang parkir melebihi waktu yang dibolehkan misalnya 1 jam atau 2 jam bebas.

Dengan denda yang lumayan meninggalkan perasaan penyesalan. Penyesalan melihat dolar yang terbuang begitu saja😀

Berkaitan dengan lebar jalanan yang cukup ‘sempit’ ini, kecepatan 60 km/jam misalnya sudah terasa ngebut. Bandingkan dengan di Saudi yang bisa sampai 120 km/jam di dalam kota bila tidak macet. Apalagi bila pergi ke luar kota bisa sampai 150 km/jam lebih saja tidak terasa. Jalanan di Sydney jarang terjadi kemacetan kecuali di dalam kota ketika jam masuk kantor dan masuk sekolah. Kalaupun terjadi kemacetan tidak sampai berhenti lama.

Hal yang tidak bisa dilepaskan dari jalanan adalah trotoar. ‘Pedestrian path’ mendapatkan perhatian yang tidak kalah penting dengan jalanan itu sendiri. Trotoar cukup lebar minimal untuk lewat 2 orang dan terlihat bersih serta rapi. Dengan satu sisi sebidang rumput dan pepohonan peneduh. Fasilitas trotoar ini sangat nyaman dan aman buat penggunanya. Bagi pejalan kaki hemat di kantong dan juga sehat karena udara yang bersih. Karena aktifitas jalan kaki ini, belanja sayur atau sekedar ke taman, saya sampai bisa menurunkan berat badan hampir seperti sebelum hamil. Sangat menggembirakan tentu saja😀😀 …..

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s