Berburu Dimsum Halal di Tempat Kelahirannya

Ditulis oleh : Dinni Destiani

Sebagai pecinta berat dimsum gue penasaran dengan rasa asli di tempat asalnya.

Tapi jangankan di Cina, di Indonesia saja muslim harus hati-hati makan dimsum. Soalnya sering pake campuran babi atau dijual bersama chinesse food non halal lainnya.

Waktu berkesempatan ke Hongkong, gue udah memiliki satu tujuan spesifik dari hasil googling, soalnya mayoritas muslim yang ke Hongkong merekomendasikan tempat ini. Dimsum halal di kantin mesjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Center di Oi Kwan Road, Wanchai, yang terkenal enak.

Oke deh kebetulan waktu itu hari jumat kami menyengajakan diri ke mesjid itu sekalian suami ingin shalat jumat disana. Memang menuju kesana agak susah untuk yang pertama kali. Karena agak jauh dari stasiun MTR terdekat.

Dari hasil nanya-nanya pada mbak-mbak TKI yang emang banyak terlihat di seputaran causeway bay *walau dandanannya aneh-aneh ada yang ala K-pop gagal, tapi mereka baik-baik looh* akhirnya kita sampai juga walaupun sempet muter-muter bingung sendiri sama peta dan ngos-ngosan dorong stroller di jalan nanjak *jompo banget*

Titik terangnya adalah dengan ngebuntutin seorang pria arab bergamis berpeci, untung pertandanya bener dia mau jumatan menuju mesjid.

Ada 2 jalan menuju kesana :

  1. Dari stasion MTR Wanchai Exit A2, keluar belok kiri menuju Hennesy road, jalan sekitar 900 meter hingga pertigaan Tonnochi road. Di seberang jalan terdapat taman dan tangga menuju ke atas Wanchai Road, melewati lapangan basket. Jika ingin lebih cepat, naik Tram dari depan stasiun Wanchai dan turun di dekat tonnochi road. Berjalan naik melewati lapangan basket lalu menyebrang ke Tak yan street hingga pertigaan pertama, belok kiri. Tidak jauh dari situ sebelah kiri kita sudah sampai di masjid Wanchai.
  1. Dari stasiun Causeway Bay exit via D2. belok kanan menuju Yee Wo Street dan menyebranglah ke halte tram yang ada di tengah. Naik tram ke arah kanan dari exit D2 dan berhenti di halte tram yang berada di bawah flyover Canal Road yang di seberangnya terdapat DBS Bank. Turun ke arah kiri dan berjalan sampai traffic light pertama, belok ke kiri ke Tin Lok road lalu belok ke kanan ke Wan Chai Road kemudian belok ke kiri ke Tak Yan Street yang berada di seberang tangga lapangan basket dan belok kiri lagi di pertigaan pertama yaitu jalan Oi Kwan Road. Tidak jauh dari situ sebelah kiri kita sudah sampai di masjid Wanchai.

Tapi semuanya kebayar dengan dimsum super enaaak, besar dengan harga HKD 11 – HKD 13 saja per porsi isi 3. Bayangkan harganya 13 ribu – 15 ribu saja setara dengan kios dimsum abal-abal kalau di Indonesia, yang belum tentu enak dan ukurannya setengah kali ukuran disini.

Selain itu mereka menyediakan berbagai chinese food halal yang porsinya juga besar bisa untuk berdua bahkan bertiga. Rata-rata harganya HKD 30 – HKD 45, nggak terlalu mahal. Udah pasti gue kalap, beli buat dimakan disana seporsi dan sisanya bungkus semua. Bapao ayam, bapao kacang merah, siomay, hakau, crab cake digulung pake nori, curry puff, samosa dll. (maruk apa mau jualan yak hehehe)

Yang bisa berbahasa Inggris hanya bapak kasir dan 1 pemilik wanita, pelayannya tidak bisa. Order form yang diberikan pun dalam tulisan mandarin, untung menunya bergambar dan ada harga dalam angka latin. Jadi gue cuma nunjuk gambar dan nyebutin angka dengan jari untuk ditulis oleh pelayan.

Ada pengalaman lucu waktu kita bertiga kayanya “digosipin” sama ibu-ibu dan bapak-bapak chinese yang semeja dengan kita (kebetulan waktu itu penuh, jadi kita nebeng meja mereka yang masih ada 3 kursi kosong).

Kebetulan sebelum kesana, kita baru aja makan dan masih kenyang, suami akhirnya cuma pesan kwetiaw beef apa gitu semacam kwetiaw siram ada sayuran dan dagingnya juga. Melihat porsi tetangga yang cukup besar, kita cuma pesen itu saja selain beberapa porsi dimsum tadi. Dan tambahan 2 nasi putih yang porsinya juga besar sampai yang 1 saya bawa pulang. Fayra (2 tahun) gue suapin nasi, siomay, potongan daging dari kwetiaw dan sayurannya. Gue juga dengan cueknya ngemil siomay pakai sambel sachet yang kita bawa sendiri *wajib hukumnya*

Para orangtua yang semeja ama kita itu kayanya pada ngomongin kita deh pake bahasa mandarin soalnya sambil lirik-lirik dan seperti memandang aneh, atau prihatin. kemungkinan topiknya :
1.  Ya ampun cemilan koq dimakan pake nasi, itu kan ibarat makan pisang goreng pake nasi. apa rasanya.

2. Koq mereka makan kwetiaw pake sendok garpu sih. kaya ngupil pake chopstick.

3. Kasian anaknya dipaksa makan nasi pake kwetiaw, sounds wrong carbo vs carbo. *eh ini kan ada dagingnya ini looh buuu, ada wortel sama sawinya juga*

Tapi sayang pembelaan itu hanya terucap dalam hati, dan “pergosipan” mereka juga cuma mereka yang ngerti. Mungkin itu gue aja deh yang GR hehe. Bodo amat yang penting tercapai cita-cita makan dimsum tanpa rasa bersalah (baca : halal dan murah).

 

One thought on “Berburu Dimsum Halal di Tempat Kelahirannya

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s