Operasi Cabut Gigi di RS Khusus Gigi Pemerintah Suly

-Ditulis oleh Istiadzah Rohyati-

Saya punya gigi yang tumbuhnya bukan ke atas, melainkan ke samping. Jadi posisinya malang-melintang, dan harus dieksekusi, hehe. Ketika saya masih di Jakarta, saya pernah ke dokter gigi dekat rumah karena tambalan gigi saya mulai lepas. Kala itu dokternya bilang bahwa saya harus melakukan operasi cabut gigi, namun sebelumnya saya harus mulut saya harus dirontgen dulu karena saya ingin pasang behel juga. Saya dirujuk ke salah satu lab besar di Jakarta yang berada di Matraman. Setelah itu saya dirujuk ke RS negeri yang berada di Rawamangun, Jakarta Timur, dan disarankan datang lebih pagi.

Saya menuruti saran dokter. MasyaAlloh riweuhnya, ya, RS itu. Saya harus mengantre pendaftaran dengan berdiri. Sementara yang mau mendaftar ada kira-kira 6-7 baris dengan jumlah kuranglebih 10 orang perbarisnya! Dan parahnya lagi, petugasnya hanya ada 2 orang saja yang duduk di meja pendaftaran! Kapan saya dapat giliran?

Saya menyerah. Kebetulan teman suami ada yang bekerja disalah satu RS Internasional di daerah Jatinegara, ia perawat dokter gigi di sana. Suami saya menelponnya untuk dibuatkan janji dengan dokter yang menangani operasi kecil untuk gigi. Akan tetapi, katanya, dokternya tidak bisa langsung tindakan (melakukan operasi saat itu juga), karena untuk pertemuan pertama biasanya hanya untuk konsultasi terlebih dahulu untuk menentukan langkah selanjutnya. Baiklah.

Beberapa hari kemudian, saya mendatangi dokter gigi di RS tsb. Dokternya baik dan ramah. Saya membawa hasil foto rontgen gigi saya. Beliau mulai melihat keadaan dalam mulut saya dan mengetuk-ngetuk gigi saya yang baru ditambal di doter gigi dekat rumah minggu lalu. Saya merintih kesakitan, agak ngilu sedikit ketika diketuk memang. Katanya, saya harus ke dokter saraf gigi dulu sebelum melakukan operasi gigi yang salah tumbuh ini. Jadi minggu berikutnya saya berkutat dengan dokter gigi dan saraf yang kebetulan ruangannya bersebelahan, dan saya dibuatkan janji dengannya.

Dengan dokter gigi dan saraf ini, saya harus bolak-balik janji karena untuk menghilang sakit pada saraf gigi/gusi tidaklah mudah dan instant. Gigi saya ditambal ulang, lalu janji berikutnya dibuka lagi untuk disuntik dan diisi entah apa namanya semacam tusuk gigi kecil sebanyak 3 buah. Katanya, saraf gigi saya yang rusak ada 3 titik dan harus disembuhkan supaya tidak terjadi ngilu-ngilu di kemudian hari.

Masalah saraf selesai, namun saya harus sekali lagi janji dengannya untuk memperbaiki tambalan. Sayangnya, waktu itu saya keburu waktu karena harus berangkat ke Irak ikut suami. Jadi saya hanya memakai tambalan gigi yang tidak bertahan lama, karena saya menjanjikan Oktober akan pulang ke Indonesia jadi bisa dibuatkan tambalan yang lebih sempurna lagi.

***

Beberapa bulan setelahnya, tiba-tiba saya merasakan ada yang aneh dengan gigi belakang saya. Tambalannya lepas sedikit. Saya tidak begitu kuatir karena hanya sedikit, dan tidak perlu ke dokter gigi juga. Namun keesokan harinya semua tambalannya lepas! Mau tidak mau, saya harus ke dokter gigi di Suly untuk ditambal lagi. Beruntung, suami pernah ke dokter gigi sebelum ini, dan cocok. Dr. Blend namanya.

Alhamdulillaah, bayangan saya akan dokternya ternyata berbeda. Saya kira dokternya berperawakan besar-tinggi layaknya orang Timur Tengah dengan wajah yang sedikit tegas. Yang saya lihat, dokternya masih agak muda, dan badannya –bisa dibilang– sama kayak suami saya, jadi saya bisa santai menghadapi tindakannya. Gigi saya difoto dulu, dan ketika melihat hasilnya saya langsung disarankan untuk melakukan operasi cabut gigi di RS setempat. Kemudian mulut bagian dalam saya disuntik 3x lalu sekitar setengah jam kemudian baru dilakukan tindakan. Saya disuntik karena gigi terasa sakit jika sedang “dikerjai”.

Dr. Blend menuliskan alamat RSnya agar nyut-nyutan saya bisa secepatnya dioperasi. Masalah tambalan gigi selesai. tidak terasa sakit apa-apa memang ketika itu, tapi begitu pulang ke rumah saya hanya berbaring menahan sakitnya yang. Saya lapar, tapi tidak bisa makan rasanya, akhirnya saya langsung tidur lalu sekitar jam 10 malam saya terbangun dan makan malam.

Ada kejadian lucu ketika pulang. Seperti biasa, kami menunggu taksi yang lewat itu susah sekali. Mungkin karena letak tempat praktek Dr. Blend yang cukup jauh di ujung kota, dekat bandara. Dan begitu dapat, supirnya ramah dan senang mengajak kami berbincang, Sayangnya, kami tidak paham bahasa Kurdi dan ia juga tidak paham bahasa Inggris. Saking senangnya, ia sampai tidak mau dibayar ketika kami tiba di tempat tujuan. Tapi suami saya tetap meletakkan uangnya di jok depan.

Tiga hari kemudian, Sabtu, saya ke RS yang dituliskan oleh Dr. Blend. Dengan berbekal kertas berisikan alamat, saya dan suami menuju pangkalan taxi depan apartemen. Wah, ternyata yang sedang mangkal cuman satu-satunya taxi, si supir ganteng😀 Huahahhah. Tapi sayang, supirnya tidak tahu alamat yang kami maksud. Ia bertanya pada satpam apartemen, dan kemudian mengisyaratkan bahwa ia sudah tahu tempatnya. Oke, berangkat.

Sampai di RS. Kesannya kayak RS lama. Di samping RS, entah tempat apa, yang jelas ada pintu gerbang yang dijaga oleh tentara lengkap dengan senapannya. Jadi ngeri. Begitu masuk, suami menanyakan tentang Dr. Blend, namun kata resepsionisnya beliau tidak praktek di RS tsb, kami disuruh ke RS satunya lagi. RS mana lagi, coba? Kami keluar menuju taxi lagi lalu menyodorkan kertas alamat dari Dr. Blend. Salah satu supir taxi yang akan kami tumpangi mengangguk yakin dan mau mengantarkan kami ke tempat tujuan.

Di dalan mobil, suami saya bertanya pada supirnya, “Kaka*, you speak English?”

No. What?” Supirnya tidak bisa berbahasa Inggris ternyata, tetapi dia meyakinkan bisa menjawab apa yang mau ditanyakan oleh suami saya.

What is the name of that hospital?

Sores” (Saya tidak tahu bagaimana tulisannya, tapi yang saya tangkap jelas supirnya berkata seperti itu)

And this one?” Sembari menunjuk kertas yang berisikan alamat RS.

Sores. Sores 2, Sores 1,” kata supirnya sambil menunjuk kertas dan RS yang tadi.

Oh, ternyata ada 2 RS yang sama, dan dua-duanya khusus gigi. Kami diantar ke RS Sores 2. Berbeda dengan di Jakarta, jika saya bepergian naik taksi selalu diantar sampai pintu masuk lobby utama, entah itu mal atau RS. Di Suly, kami hanya diantar sampai pintu gerbangnya saja dan masuk sendiri tanpa diberi tahu apa-apa lagi oleh supirnya.

Di depan pintu RS, ada ibu-ibu yang berpakaian jas dokter sedang menelpon, dan ketika kami hendak masuk ia menghampiri kami. Suami saya langsung memberikan kertas dari Dr. Blend kepadanya. Ibu tadi menyuruh salah seorang cleaning service mengantarkan kami ke tempat Dr. Blend: lantai 3 ruang 15. Tidak ada lift, hanya ada tangga. Untung suami saya berinisiatif untuk tidak membawa stroller karena khawatir RSnya tidak menyediakan fasilitas lift.

Sampai di lantai 3 ruang 15, kami tidak bertemu dengan Dr. Blend. Dari salah satu perawat di ruang tsb, katanya Dr. Blend belum datang dan memang beliau ada jadwal praktek di hari itu. Kami menunggunya datang sambil duduk-duduk di ruang tunggu. Lumayan, pikir saya, RS pemerintah tetapi tidak seperti RS pemerintah yang pernah saya datangi di Jakarta. RS di sini bersih, rapih, meski fasilitas belum secanggih di Jakarta. Maklum saja, Suly baru benar-benar merdeka beberapa tahun belakangan, jadi mereka masih butuh waktu untuk membenahi segala sudut kota. So far, RSnya nyaman.

Dr. Blend akhirnya datang tidak lama kemudian. Kami berkemas untuk pindah ke ruangan lain karena untuk operasi tidak di ruangan praktiknya. Beruntung, setelah bertemu dengan dokter yang akan menangani gigi saya, ternyata wajahnya tidak seperti orang-orang Irak juga, hehehe. Jadi saya tidak perlu takut duluan sebelum dioperasi. Saya disuruh foto x-ray terlebih dahulu karena dokternya belum kenal dengan saya dan masalah gigi saya. Saya dan Dr. Blend menuju lantai 2 sebentar, saya diajak masuk ke dalam ruangan oleh salah satu staf wanitanya untuk segera difoto. Selesai difoto, saya langsung disuruh kembali ke dokter yang belakangan saya tahu namanya Dr. Luqman. Saya sempat bingung, kenapa saya tidak diminta untuk membayar?

Saya kembali ke ruang Dr. Luqman, dan beliau mengatakan bahwa operasinya tidak terlalu sulit, tapi membutuhkan waktu yg cukup lama, kira-kira 1 jam. Lalu saya diberi pilihan mau tetap dioperasi hari itu juga atau kembali lagi esok hari. Dan saya memilih dioperasi pada hari itu juga. Setelah itu saya tidak langsung dioperasi, karena memang saya baru datang dan tidak punya janji dengan dokternya, jadi saya harus menunggu pasiennya selesai dulu baru dokternya bisa menangani saya. Syukurlah, beliau hanya punya janji dengan 2 pasien saja, tapi lama. Saya menunggu kira-kira 1 jam di sana, takapalah daripada saya harus pulang lalu balik lagi besok.

Daftar biaya untuk masing-masing tindakan di RS Gigi Pemerintah Suly

Menurut daftar biaya di atas, seharusnya saya membayar 3000 Dinar Iraqi untuk operasi, dan 1500 Dinar Iraqi untuk foto x-ray. Saya tidak tahu biaya jasa dokternya seberapa besar.

Akhirnya saya dipanggil masuk. Proses cukup lama, mengingat keberadaan gigi saya yang salah tumbuh itu. Saya disuntik entah berapa kali, tidak ingat lagi. Yang saya ingat, saringan penampung air kumur-kumurnya tampak tidak bersih, masih ada bekas darah sedikit yang menyangkut di gerigi lubang-lubang penampungannya, dan tentu saja bau amis darah. Saya harus tetap positive thinking dan merilekskan hati supaya tidak terlalu tegang. Cukup lama saya kira dokternya mencoba mencabut gigi saya namun tak kunjung lepas. Setiap percobaan mencabut, rahang sebelah kanan saya ikut sakit dan sepertinya mau lepas dari tulangnya. Oh, tidaaaak. Bilang saja saya lebay, tapi ini beneran sakiiiiiiiiiit masyaAlloh. Saya sampai hampir menangis. Ya, hampir, karena saya masih “menjaga image”, ihihihi.

Setelah menahan sakit yang berkepanjangan (lebay lagi) saya melihat Dr. Luqman mengeluarkan benang hitam yang panjang, ah saya tidak tahu untuk apa. Tapi saya pikir itu benangnya untuk mencabut gigi saya! WTF! Jauh-jauh ke RS hanya untuk dicabut menggunakan benang? Saya coba berpikir positif lagi dan jika saya berpikir macam-macam makin ngilu rasanya gigi ini. Dan tidak lama kemudian saya disuruh menutup mulut sambil menggigit kapas yg ditaruh di gusi belakang. Selesai.

Hah? Saya bahkan tidak mendengar kapan dicabut giginya. Di bagian mana beliau berhasil mencabutnya? Saya masih bingung dan bertanya pada susternya dimana gigi saya, dan dia menunjukkan di mejanya, “Ini crownnya, dan yang ini giginya. Jangan minum air panas dan dingin dulu ya, seperti teh, kopi, dll.” Oh, penuh darah. Saya tidak mau membayangkan. Lalu susternya mengajak saya ke ruangan sebelah, saya pun mengucapkan terimakasih kepada Dr. Luqman, dan beliau berkata, “Kamu akan sakit beberapa hari, ya.” Oh, baiklah, Dok.

Saya diberi resep oleh susternya: 1 obat kumur-kumur, 1 obat pain killer dan 1nya lagi antibiotik. Saya disuruh kebali 1 minggu lagi untuk melepas jahitan. Lalu saya keluar dgn menahan sakit dan meminta tolong suami saya yang pergi ke apotek di lantai bawah. Sementara itu, saya menunggu di ruang tunggu dengan Shaki. Salah seorang suster di ruangan saya tadi, keluar dan memberi saya saran supaya tidak tidur dengan kepala miring dan kalau bisa gunakan bantal yang tebal, jangan juga berbicara terlalu banyak di hari itu karena sakitnya akan semakin menjadi. Oh, baiklah, saya akan diam dan menahan sakitnya. Lalu Dr. Luqman tidak lama keluar dari ruangannya dan memberi saran lagi kepada saya, “Kamu akan merasakan sakit selama 2-3 hari ke depan ya,” sambil tersenyum. Terimakasih, Dok.

“Kunjungan” ke RS hari itu kami hanya mengeluarkan uang 2500 Dinar Iraqi untuk obat-obatannya. Saya dan suami heran, kenapa kami tidak diminta untuk membayar operasainya tadi? Juga dengan foto x-raynya. Seharusnya kami mengeluarkan sekitar 4500 Dinar Iraqi dan ditambah dengan obat. Anda-Anda tidak perlu merasa heran, karena di Suly kami sering sekali mendapat perlakuan “ajaib”, seperti naik taksi tapi suprnya tidak mau dibayar.

Hari-hari berikutnya saya rasakan dengan sakit yang luarbiasa. Saya tidak mengira rasa sakit yang dimaksud oleh Dr. Luqman adalah yang seperti saya rasakan. Saya tidak bisa membuka mulut lebar-lebar. Saya tidak bisa memakan makanan seperti biasa, hanya yang lembut-lembut saja. Saya tidak bisa mengobrol dengan anak-anak. Saya tidak bisa mengajak main anak-anak. Saya tidak bisa mengontrol emosi saya. Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Sakitnya masyaAlloh. Ketika tidur malam, saya selalu terbangun oleh rasa sakit, mungkin efek obatnya sudah hilang. Ah, saya tersiksa sekali. Obat pain killer yang saya punya cukup bagus, akan tetapi tidak boleh digunakan lebih dari 3 hari, dan saya mendapat berita baik dari situ bahwa rasa sakit saya akan berakhir setelah 3 hari, persis seperti yang dikatakan ibu saya (beliau pernah operasi cabut gigi sebelumnya) sakitnya hanya 3 hari.

Hari keempat pasca operasi. Gigi saya rasanya linu sekali. Entahlah, yang sakit gusi atau gigi. Yang dicabut kemarin adalah gigi yagn salah tumbuh, yg sebenarnya gigi saya baik-baik saja, sehat dan kuat, tidak ada yg salah dari gigi saya kecuali letak tumbuhnya. Tapi entah kenapa yg terasa sakit sekarang kok gigi sebelahnya? Saya tidak berani mengecek sendiri karena sakit sekali, sikat gigi pun hanya 1x sehari saking sakitnya.

Hari ketujuh. Saya merasa lebih baik dari hari kemarin. Entah kenapa, pagi itu terasa lebih indah karena sakitnya hilang, dan malamnya saya bisa tidur nyenyak. Saya kembali ke RS untuk membuka jahitan. Beruntung, karena begitu kami tiba di ruang tunggu, Dr. Luqman keluar dari ruangan dan langsung mengenali saya. Beliau menanyakan kabar saya lalu menyuruh saya masuk dan akan ditangani oleh asistennya. Saya merasa lebih siap kini dibanding seminggu yang lalu.

Tapi ternyata saya salah. Proses melepas jahitan pasca operasi cabut gigi itu ternyata lebih menyakitkan dibanding operasinya sendiri. Ketika operasi saya tidak merasakan sakit pada gusi atau gigi saya kecuali rahang yang berasa mau patah. Dan kali ini saya tidak dibius samasekali! Rasanya seperti apa yah, saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata lagi. Rasanya masyaAlloh sakit sekali, dan saya menangis. Padahal prosesnya sangat sebentar tapi rasanya seperti berjam-jam saya duduk di kursi itu. Setelah selesai, rasanya saya ingin tonjok aja itu asistennya. Sayang, badannya lebih besar dari saya dan dia laki-laki :p

Keluar dari RS, kami bertemu dengan Dr. Luqman dan bercerita bahwa pasca operasi kemarin gigi saya sakit sekali padahal obat pain killernya sudah habis dan tidak boleh diteruskan lebih dari 3 hari. Beliau menyarankan jika terjadi sakit gigi lagi, berkumur-kumur saja dengan air garam, tidak perlu minum obat kecuali rasa sakitnya makin parah. Memang, setelah pulang, saya masih merasakan sakit gigi, tapi saya langsung bunuh dengan pain killer yang saya punya. Well, saya tidak menjalankan sarannya karena ragu.

Anyway, setelah beberapa waktu setelah itu, saya mendapati benang hitam di antara gigi saya yang saya kira itu adalah benang bekas jahitan kemarin. Saya panik, dan meminta suami saya menghubungi Dr. Blend. Saya diminta ke tempat praktiknya sore nanti. Sementara menunggu sore, saya masih penasaran dengan benang yang masih menyangkut. Saya coba berkumur-kumur lebih kencang, tidak berhasil. Saya lihat benangnya menjuntai lalu saya coba tarik perlahan ternyata benangnya memang sudah lepas hanya saja belum menemukan jalan keluarnya. Alhamdulillaah🙂 Tapi sorenya saya tetap ke Dr.Blend untuk mengecek gusi yang giginya sudah dicabut tempo hari.

Kunjungan ke Dr. Blend kali ini tidak memakan waktu lama sebenarnya, namun karena pasiennya masih banyak jadilah lama mengantrenya. Gusi saya hanya disiram dengan air menggunakan suntikan agar bekas makanan yang berada di lubang bekas gigi yang dicabut keluar. Kemudian saya disuruh menggigit kapas yang beliau letakkan di atas gusi tadi. Sakit. Saya harus kembali 3 hari lagi untuk dibersihkan lagi.

Tiga hari kemudian saya datang, beliau melakukan hal yang sama seperti tiga hari yg lalu. Menyuntikkan cairan agar bekas makanan keluar, hanya saja tidak meletakkan kapas lagi. Selesai. Kami tidak perlu membayar katanya. Padahal, menurut saya, cairan yang beliau suntikkan tadi bukan air putih biasa, yang seharusnya, jika di Indonesia, ini berbayar. Jasa beliau pun tidak “dihargai” juga. Jadi kami benar-benar GRATIS saat itu. Dan sebelum pulang beliau menyarankan supaya saya selalu berkumur dengan air garam 3x sehari setelah makan, dengan air hangat.

Sampai saat ini, saya sudah jarang berkumur dengan air garam lagi, karena sering kelupaan. Tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan jika sakit gigi menyerang kembali, cukup dengan berkumur air garam saja🙂

***

*) Kaka: panggilan untuk laki-laki khas Kurdistan. Kalau di Indonesia seperti mas, abang, akang, dll.

7 thoughts on “Operasi Cabut Gigi di RS Khusus Gigi Pemerintah Suly

  1. Salam kenal mba, suami sy sdh 3 bln lbh sakit gigi, sdh bolak balik ke dokter gigi dan saraf, tetapi tetap tdk ada perubahan. Sdh ԃ rongten dan memang gigi bungsuny hrs ԃ cabut tapi Ɣƍ sy tau, klo sakit kan ga bs ԃ cabut. Dan sakitny itu hampir tiap hari. Mungkin mba bisa share pengalamanny, jujur sy dan suami sdh lelah, segala cara sdh ԃ coba. Bahkan kmrn sdh ԃ tambal,,tetapi mlh tambah parah sakitny.

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s