Selamat Datang di Negeri Leprechaun! :)

Kontributor : Jihan Davincka

It’s been a week!

Sabtu lalu, jam 7 pagi, kami berempat mendarat di Dublin International Airport. Keluar dari pesawat sih masih pecicilan. Kostum masih ala-ala orang tropis. Setelah berganti kostum di ruang tunggu, baru deh menuju halte. Menunggu bis menuju Athlone.

WH-Athlone-Town

Si duo N masih segar bugar. Sibuk mengunyah. They’re extremely great during the trip. Terbang 9 jam dari Jakarta ke Abu Dhabi, Narda tidur terusssss😀. Abil sibuk sendiri dengan tontonan dan gamesnya, makannya juga lancar dan banyak. Trio Emirates-Etihad-Saudi Airlines memang makin top ^_^. Viva Middle East 😀.

Transit di Abu Dhabi, bocah-bocah ribut minta makan lagi. Penerbangan ke-2 selama 7-8 jam menuju Dublin, dua-duanya juga kompak tidur setelah sebelumnya ikut makan dengan lahap😉.

What a super-duper-pleasant trip🙂.

***

Begitu keluar dari gedung bandara, langsung keder. Di pesawat sebelum landing sudah diberi tahu suhu di luar sekitar 0-1 derajat. Pede amat hanya memakai mantel yang agak tipis. Peristiwa saltum yang harus dibayar dengan bibir-lutut-tangan gemetaran setiap berada di luar ruangan.

Saya dan suami sama-sama mendorong troli yang sesak dengan barang plus 2 bocah laki-laki yang cuma bisa mingkem kalau lagi tidur😛. Sedapnya, dorong-dorong troli menembus suhu super dingin.

Butuh 2 jam perjalanan dengan bis untuk mencapai kota tujuan, Athlone. Dalam bis lumayan hangat. Si duet maut duduknya dipisah. Yang kecil dengan saya. Tidur pulas sepanjang perjalanan. Sementara mamanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan noraknya. Ahahahahaha. We’re in Europe, Maaannnn!😛.

***

Menurut suami saya sih, Irlandia termasuk negara Eropa yang biasa-biasa saja. Jerman-Swiss-Perancis masih jauh lebih bagus. Iya deeeeehhh, yang sudah sering keluyuran kemana-mana😛.

“Ireland is just a beginning. You can take me to the mainland later. Bring me to anywhere I want.” Suami langsung stres. Ahahahahaha.

Irlandia juga tidak terlalu populer di tanah air. Buktinya banyak teman-teman saya sibuk bertanya “Irlandia itu dimana, sih?” Kalau pun ada yang familiar, pastilah karena Boyzone😛.

Irlandia, terletak di salah satu wilayah paling barat di Eropa. Tetangganya Inggris. Nanti kalau sepupu saya (si Kate) lahiran, insha Allah mau nengokin. Ahahahahahaha.

Irlandia terletak di pulau terpisah. Ibukotanya Dublin. Athlone hanya sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 124 km dari ibukota. Penduduknya cuma sekitar 20 ribu orang. This city is always sleeping😀.

Kontras sekali dengan kota metropolitan seperti Jakarta dan Jeddah. It’s definitely a brand new life🙂.

***

Saya suka Eropa terutama karena ‘sosialis’nya🙂. I love Jakarta and Jeddah for sure. Tapi tidak terlalu nyaman dengan kelas-kelas dalam masyarakat yang terbentuk dengan sendirinya. Apa serunya naik mobil kemana-mana kalau kita bisa melihat pengemis ada dimana-mana?😦.

Di Athlone, gap-gap seperti ini nyaris tak terlihat. Seperti pada umumnya di berbagai kota di negara-negara maju lainnya. Kalangan menengah mendominasi.

Tentu ada harga yang harus dibayar. Selamat tinggal kehidupan ala Madam di Saudi😛.

Di Jeddah, kemana-mana naik mobil. Mau ke warung dekat rumah saja, kalau suami di rumah, pasti dia memilih mengantar naik mobil. Di Athlone, kemana-mana enak juga berjalan kaki. Kotanya kecil, kok😉. Kami belum memutuskan untuk segera membeli mobil.

Di Jeddah mau keluar tinggal menyambar abaya. Kalau buru-buru, anak-anak bisa ganti baju di mobil. Kemana-mana pakai sandal saja. Di Athlone, sebelum keluar rumah, ritualnya cukup banyak. Memakaikan baju berlapis plus jaket tebal plus kaos kaki plus sepatu pada para bocah. Untuk mamanya juga begitu. Maklum ya, masih penyesuaian. Bodi masih suasana gurun mendadak pindah ke ‘kulkas’ hihihihihi😛.

Apartemen sementara kami di lantai 3. Catat ya, ternyata tidak banyak apartemen di sini yang memiliki fasilitas lift. Kalau suami di kantor, saya harus menenteng stroller naik turun tangga sambil menggendong si kecil dan mengawasi penuh kakaknya yang pecicilannya minta ampun. Kalau plus barang-barang belanjaan lebih maknyus lagi.

Kalau dulu membayangkan akan menyusuri jalanan dengan santai sambil menenteng kamera, memakai sepatu boot + mantel yang keren, tas nya juga mesti yang dandy punya. Keep it in your dream, Mommie! Hehehehe.

Kemana-mana mendorong stroller, sepatu keds ternyata pilihan yang lebih nyaman. Kamera? mau ditaruh di mana? Ransel (model tas yang sudah lama tak pernah dilirik) pun ditenteng kemana-mana. Sembari nyinyir di sepanjang jalan, “Abiiiiil, jangan lari. Abiiil, jangan loncat-loncat, jalan biasa aja. Abiiiilll, tungguin mama, dong.” Ahahahahahaha. Welcome in Europe, Mama Jihan ^_*.

Berbelanja di supermarket pun tantangan tersendiri. Lupakan troli. Mana sanggup mendorong troli dan stroller sekaligus? Lagian untuk menggunakan troli mesti pakai koin. Entah nanti koinnya dibalikin apa gimana. Dan tentu saja…no plastic bags available for free! Memangnya di Saudi. Belanja beberapa item saja, plastiknya bisa segambreng.

Tujuannya bagus🙂. Ramah lingkungan. Itu pula gunanya membawa ransel. Sebagian belanjaan bisa disisipkan di punggung, sisanya taruh di stroller. Belum memungkinkan membeli tas belanja khusus. Soalnya kemana-mana saya bawa buntut sambil berjalan kaki.

Uniknya adalah masalah berhemat. Semua orang pasti akan berusaha hidup hemat lah di negara-negara Eropa. Penghasilan dihantam dengan pajak yang tidak sedikit dan biaya hidup yang tidak murah. Masih ingat kan, di Saudi pajaknya 0 rupiah😀. Kami seharusnya tidak masalah, dong, ya. Semasa tinggal di Saudi sudah terkenal sebagai “keluarga Gober” hehehehe. Tapi suami saya sempat berujar, “Beda ya rasanya, berhemat karena pengin sama berhemat karena terpaksa.” Ahahahahahaha.

***

Other than that, I love Athlone. Dari kecil saya sudah jatuh cinta pada Eropa. Terima kasih tak terhingga buat Clara dan keluarga yang sangat helpful pada kami. Juga untuk sahabat jiran baru kami, Kak Lina dan keluarga🙂.

Mungkin memang saya termasuk orang yang gampangan. Gampang senang😛. Karena saya juga menikmati masa-masa tinggal di Jeddah. Teman-teman saya kadang mengeluh betapa panasnya cuaca di Jeddah. Menurut saya, limpahan matahari itu berkah tersendiri. Maklum, menghabiskan 18 tahun kehidupan di kota pantai. Asli Makassar, nih😉.

Udara dingin kadang bikin keki. Tapi senang karena kemana-mana berjalan kaki tidak cepat terasa lelah.

Ah, ini kan baru seminggu. Jangan sombong dulu kauuuuu😀. Well, as long as we believe that “happiness is not given but it is made,” mari kita selalu bergembira, “Disini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang.”

Wish us nothing but the best. Selamat datang di Negeri Leprechaun!🙂.

10 thoughts on “Selamat Datang di Negeri Leprechaun! :)

  1. wuahayyyaaahh akhirnya kau merasakan juga suhu 0 derajat, ya, kawan :p dan kalau mau keluar rumah sama bocil harus banyak persiapannya, meski cuma beli minyak di warung depan😀 hahhahahhaha
    ah, enaknya ke eropa… saya mauuuuu

  2. hehe…selamat berpertualang di tempat baru mabk Jihan, di tunggu cerita2 serunya😉 ato malah mo bikin buku lagi nih hehe😀 sukses y😉

  3. wah seru sekali ceritanya ibu-ibu ini :))
    aku belum menikah, masih kuliah malah. pengen sekali, insyaAllah bisa dikasih kesempatan tinggal di luar negeri sama suami dan anak-anak nanti. thankyou udh share mbak :))

  4. Mba Jihann… this is my first time masuk ke blog-nya. Setiap baca tulisan mba, selalu ikut bersemangatt banget.

  5. mba boleh tau waktu di athlon ngapain? ngikut suami kerja kalo iya, kerjanya dmn? hehe
    terus banyak orang indonesianya ga disana?

    saya dapat tawaran kerja juga di athlon soalnya mba

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s