Vacation to Erbil (Again): Day 1

-Ditulis oleh Istiadzah Rohyati-

Hari Kamis kemarin, 14 Maret, saya sekeluarga berlibur dadakan ke kota lagi. Ke mana lagi kalau bukan Erbil? Hehehe. Satu-satunya kota besar di Kurdistan. Ibukota Kurdistan. Dibilang dadakan karena memang baru hari Rabunya suami saya ngajakin karena Kamis libur nasional.


Kami berangkat pagi dari rumah naik taksi menuju terminal Suly. Di terminal, banyak taksi yang mangkal dengan tujuannya masing-masing. Karena kami akan pergi ke Erbil jadi sopir kami mengantarkan sampai ke bagian taksi tujuan Erbil. Setelah membayar sebesar 60.000 ID (kira-kira Rp 480.000,-), kami naik taksi yang akan kami tumpangi. Beruntung kami mendapat sopir yang bisa berbahasa Inggris. Harga tersebut lebih murah daripada kami harus menyewa taksi yang langganan saya ketika I’am sekolah beberapa waktu lalu.

Pemandangan sepanjang perjalanan

Sepanjang perjalanan, sopir kami bercerita tentang Kurdistan dan kami disuguhi pemandangan indah. Yes, it’s spring! Rerumputan yang hijau mengisi indera penglihatan kami. Sungguh indah dipandang mata. Sambil sesekali kami meihat penjaja bunga di pinggir jalan. Bunga yang dijual,menurut sopir kami, hanya tumbuh ketika musim semi. Ia juga menyimpannya di dashboard mobil. Saya diberi setangkai yang ditumbuhi 2 bunga. Cantik sekali. Bunga Nergiz namanya.

Perjalanan tidak begitu menyenangkan karena sama seperti perjalanan sebelumnya, Shaki juga muntah 2x di taksi. Saya hanya ingin cepat-cepat sampai saja rasanya dan ingin mandi sebentar untuk menyegarkan badan dan pikiran. Kalau mau tahu tentang perjalanan sebelumnya, bisa dibaca di sini.

Tiba di Erbil, saya langsung menghubungi teman saya yang tinggal di sana, Mba Merry. Kami berencana akan menginap di rumahnya, pengiritan, hihi. Ternyata di Erbil sudah panas. Sinar matahari cukup menyilaukan mata dan membuat keringat mengalir setiap saat. Kami istirahat sebentar kemudian makan siang. Alhamdulillah, menu makan siang kami luar biasa nikmat: nasi hangat, sayur asem, ayam goreng, perkedel, dan kerupuk. Malu mau nambah, karena baru ketemu jadi masih jaim, hehe. Makasih, Mba. ^_^

Setelah makan siang, kami langsung jalan ke mall. Katanya ada mall baru di Erbil, jadi saya pengen tahu ada apa aja di sana (ngabsen, kali). Katanya juga ada Bata, lho! Kebetulan, saya mau nyari sepatu buat Shaki karena punya dia udah kekecilan. Lumayan, bisa nyari yang murah-murah dikit, nih. Hehehe.

Kami ke Royal Mall, mall yang ada Batanya itu. Sayang, saya ngga dapet sepatu yang ukurannya pas untuk Shaki. Lalu kami lanjutkan kelilingin mall sambil nyari Lego. Sayang juga, ngga ada Lego di sana. Jadi kami langsung ke luar dan menuju toko mainan besar di Erbil, Tom ‘N Jerry. Ealah, ternyata pintu tokonya dikunci! Ngga ada tanda-tanda tokonya tutup, cuma lampuna aja yang ngga nyala. Tapi semua mainan tersusun rapi tanpa tertutup gorden di pintu kacanya.

Kami lanjutkan perjalanan ke Majidi Mall. Mall lagi, mall lagi. Hahaha! Memang di Erbil ini penuh mall, tapi sayangnya sepi pengunjung. Di Majidi Mall juga ngga lama mampirnya. Saya dan suami mencari Lego lagi tapi ngga ketemu. Lalu ke Mothercare nyari sepatu buat Shaki. Alhamdulillaah, dapet sesuai yang dicari dan cocok di kaki Shaki.🙂

Lelah, kami pulang sebentar kemudian pergi ke taman umum terbesar di Erbil. Sami Abdulrahman Park. Tiket masuk hanya ID 1000 per mobil (sekitar Rp 8.000,-), untuk biaya parkirnya aja. Di taman umum ini, ada beberapa pasang pengantin yang merayakan pernikahannya di sana. Wow, saya senang sekali! Niatnya mau fotoin pengantinnya atau pengiringnya yang menggunakan pakaian adat Kurdi, tapi pas diminta foto bareng mereka ngga mau. Mungkin mereka ngga ngerti maksud kami, soalnya mereka cuma geleng-geleng sambil dadah-dadah. Hehehe.

Untuk merayakan pernikahan di taman ini, mereka tidak dikenakan biaya sama sekali alias GRATIS. Wah, enaknya! Udah kebayang aja, kalo di Indonesia bisa gratis begitu, niscaya banyak yang ngantre, deh, dan gedung-gedung pada ngga laku.

Salah satu pengantin yang berhasil difoto sembunyi oleh suami Mba Merry

Jangan ngebayangin acara pernikahannya seperti di Indonesia, ya, yang banyak makanannya. Perayaan pernikahan adat Kurdi cukup sederhana. Mereka benar-benar hanya mengundang sanak saudara dan orang-orang terdekat saja. Tidak ada makanan yang disediakan. Hanya untuk berfoto-foto bersama keluarga. Hmm enak, ya? Mempelai nggak perlu bingung untuk budget makanan yang biasanya membengkak di setiap acara resepsi pernikahan di Indonesia.

Tapi, untuk menikahi seorang wanita Kurdi tidaklah mudah, sodara-sodara. Calon mempelai pria harus menyiapkan mahar yang begitu mahal untuk calon istrinya. Ngga heran, kalau mereka banyak yang nikah setelah berumur karena harus mengumpulkan uang yang banyak dulu. Dan bagi orangtua yang memiliki anak perempuan biasanya menjaga betul “aset” mereka. Ngga tanggung-tanggung, mahar yang diminta bisa sampai 5 kg emas!

Untuk itulah adanya hukum keseimbangan. Uang yang dikeluarkan benar-benar untuk menikahi calon istrinya, bukan untuk perayaannya. Misalkan ada makanan di resepsinya, mereka hanya menyediakan camilan kue manis seperti baklava saja, nggak ada makanan beratnya.

Setelah melewati hiruk-pikuk beberapa pengantin dan keluarganya, kami bertemu dengan berbagai macam perosotan yang bertengger di taman. Playgroundnya panjang sekali, pemirsah! Udah pasti, ya, anak-anak senenggg bukan kepalang ngeliat perosotan warna-warni dari yagn pendek lurus sampai yang tinggi melingkar kayak ular. Sayang, saya nggak bisa motoin playground yang panjang sekali itu karena sibuk nemenin anak-anak bermain.

Selesai bermain, kami melihat air mancur mulai menari-nari di belakang playground. Kami mengajak anak-anak melihat air mancur. Mereka juga senang. Dan tentunya, foto-foto lagi. Makasih, Mas Doni, untuk foto-fotonya. Suka, deh.

Shaki dan Naya, anak Mba Merry

Saya dan Shaki serta Naya dan ibunya, Mba Merry ^^

Keluarga kecil saya ^^

Senja sudah memanggil, kami segera beranjak dari taman. Tapi bukan pulang, melainkan ke apartemen Mba Imel, salah satu teman Indo juga yang tinggal di Erbil. Di sana, kami dijamu makan malam yang maknyus juga. Menunya? Serba pedas! Ah, nikmatnya makan malam kala itu. Nasi hangat dengan lauk ayam rica-rica dan krecek, tak lupa kerupuk! Ah, ya, ada sambel ijo teri medan juga. Ngga berasa, deh, lagi tinggal di Kurdistan. Hehehe. Selesai makan, kami diberi apple cake sebagai pencuci mulut.

Bertemu mereka seperti bertemu teman dekat yang udah lama ngga ketemu. Ketawa-ketiwi layaknya teman lama yang baru saja melepas rindu. Seru banget. Meski awalnya saya masih jaim karena malu, lama-lama bisa terbawa suasana hangat. Nggak ada lagi malu-maluan apalagi jaim-jaiman. Waktu makan pun saya sampai nambah, hehe. Ini doyan apa lapar? Setelah acara makan-makan selesai, kami pun foto-foto. Maaf, fotonya kurang bagus. Yang motoin anaknya Mba Imel yang masih SD soalnya, hehehe.

Ki-ka: Mas Doni, Mba Merry dan Naya, saya, suami saya dan Shaki, Mba Imel dan Kinaya, dan Mas Agus

Kenyang sudah, kami pun pulang ke rumah Mba Merry. Saya dan Mba Merry dibungkusin menu makan malam tadi oleh Mba Imel. Asik! Pulang dari Erbil berarti saya nggak perlu masak lagi, nih! Hihihi.

Hari pertama saya sekeluarga di Erbil cukup memuaskan. Kami berjalan-jalan dan dijamu dengan baik layaknya tamu jauh yang benar-benar dilayani. Mas Doni, suami Mba Merry, baik sekali mengantarkan kami ke mana pun di hari itu. Ah, kalian baik sekali.🙂

bersambung ke sini

One thought on “Vacation to Erbil (Again): Day 1

  1. Pingback: Vacation to Erbil (Again): Day 2 | Far away from homeland...Indomie's still d best!

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s