Vacation to Erbil (Again): Day 2

-Ditulis oleh Istiadzah Rohyati-

-sambungan-

Hari kedua di Erbil kami memulai perjalanan ke Family Mall, mall yang ada Carrefournya. Inilah tujuan utamanya, hehehe. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 11 siang langsung menuju Carrefour. Kebetulan, teman-teman di Suly juga ada yang nitip jadi kami selesaikan dulu tugas ini. Hehehe.

Ada apa aja di Carrefour Erbil? Kuranglebih sama seperti di Indonesia pada umumnya. Masuk ke Carrefour berasa belanja di Jakarta aja. Soalnya udah ngga asing lagi sama suasananya. Sama plek-plek penempatan bagian-bagiannya.

Inilah yang saya temukan di Carrefour; dari cumi besar, rajungan, ikan hidup, sampai testikel kambing pun ada😀

Saya hanya belanja mie dari Thailand dan mie goreng titipan Mba Gita, salmon untuk saya dan titipan teman-teman, serta cumi dan udang untuk saya sendiri. Belanja kali ini ngga memakan waktu lama karena suami saya dan suami Mba Merry harus jumatan. Jadi, selama mereka jumatan, saya, Mba Merry, dan anak-anak keliling mall aja. Benar-benar keliling karena ngga mampir ke mana-mana kecuali beli minuman ringan sebentar.

Selesai jumatan, saya sekeluarga mengiyakan ajakan Mba Merry untuk mendatangi undangan makan siang temannya. Katanya, temannya ini TKW, Mba Sarah namanya. Baiklah, karena saya pikir ini undangan dari teman setanah air, jadi saya ikut aja. Dengan rencana setelah dari tempat Mba Sarah kami kembali ke Family Mall karena masih ada yang harus dibeli lagi.

Kami ke luar mall lalu menjemput Mba Imel di apartemennya. Mba Imel bawa kejutan lagi. Dia memberikan roti dan tahu buatannya untuk saya dan Mba Merry. Senangnya! Gimana ngga senang? Selama di Suly saya ngga pernah ketemu roti lembut nan manis. Roti-roti di Suly keras seperti roti Prancis. Adapun yang lembut hanya roti tawar aja, itu pun baru beberapa bulan belakangan ini adanya, dan tidak selembut Sar* R*ti di Indonesia.

Inilah rumah-rumah orang Kurdistan. Lucu, ya? Kotak-kotak semua ^^

Mba Sarah tinggal di salah satu rumah ini, di lantai paling atas.

Sampai di flat Mba Sarah, kami ngobrol-ngobrol lalu makan saing. Menunya cukup enak hanya aja cita rasanya udah kebawa khas Kurdi. Saya maklum, Mba Sarah ini udah 10 tahun tinggal di Kurdistan dan pekerjaannya adalah memasak. Pantas aja cita rasa sayur lodehnya ngga seperti yang saya bayangkan.

Menu makan siang Mba Sarah. Menu Indonesia, tapi cita rasanya Kurdistan

 Waktu udah menunjukkan pukul 15.30 dan kami berpamitan. Karena udah sore, kayaknya ngga mungkin lagi belanja di mall. Jadi kami hanya mengantar Mba Imel pulang lalu kembali ke rumah Mba Merry. Ketika di perempatan jalan, kami bertemu dengan penjaja bunga Nergiz. Suami Mba Merry membeli seikat yang harganya 1000 ID dan meminta foto. Tapi sayang, penjualnya ngga mau difoto. Malu.

Tiba di rumah Mba Merry lagi. Saya menyiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang sementara suami menyuapi anak-anak makan. Dan tidak lupa, oleh-oleh dari Mba Imel juga saya keluarkan dari kulkas Mba Merry. Sekitar pukul 5 sore kami diantar ke terminal. Di tengah jalan, suami baru ingat kalau hpnya ketinggalan! Jadi kami putar balik sekalian solat maghrib sebentar baru berangkat lagi.

Oleh-oleh dari Mba Merry dan Mba Imel. Makasih, ya, Mba-Mba cantik🙂

Numpang nampang di depan rumah Naya, ya. Hehehe

Akhirnya kami pulang dari Erbil sekitar pukul 7 malam dengan ongkos taksi yang lebih mahal sedikit daripada waktu pergi kemarin, 70 ribu Dinar Iraq, atau sekitar Rp 560.000,-. Perlu diketahui, perjalanan Erbil-Suly memakan waktu 2,5 jam jika lewat rute Kirkuk jalur luar kota. Tapi jika lewat rute Dokan, akan lebih lama setengah jam. Namun jika melewati Dokan kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang lebih indah selama perjalanan. Gunung-gunung dan danau cantik menyegarkan mata seakan memanggil kita untuk singgah ke sana. Bisa dibaca di tulisan saya yang ini.

Sopir kami masih muda kelihatannya dan sayangnya ngga bisa berbahasa Inggris. Ia tampak ngga sabar melihat jalanan macet. Macet sekali seperti di Jakarta ketika sedang jam sibuk. Ia menerobos pembatas jalan–yang hanya rerumputan–ke jalur berlawanan. Saya sampai deg-degan. Sebenarnya saya lelah dan ngantuk, tapi melihat cara menyetirnya seperti orang dikejar-kejar polisi, saya ngga bisa tidur tenang. Saya mual. Jendela dibuka lebar oleh sopir, saya pikir saya masuk angin. Suami minta jendela diturunkan sedikit ia ngga ngerti. Lalu ia menyetel radio dengan volume ekstra! MasyaAlloh! Dia ngga lihat apa anak-anak saya kecapekan dan sedang berusaha tidur?

Di tengah perjalanan, Mba Merry menelepon dan memberitahukan bahwa belanjaan saya ada yang tertinggal! Apa? Mie instan! Hiyaaah. Itu mie seplastik gede bisa-bisanya ketinggalan. Emang ngga dibolehin lagi, nih, makan mie kayaknya. Hihihi. Eh, ngga papa, ding. Biar ada alesan minta Mba Merry ke Suly nanti. Jadi nanti kalo kamu ke Suly sekalian, ya, bawain udang dan cumi. Kan di Suly ngga ada. :p

Pulang kemarin kami lewat Kirkuk. Untuk diketahui, Kirkuk adalah kota yang diperebutkan oleh Irak dan Kurdistan. Kota ini menjadi rebutan karena katanya memiliki banyak minyak di dalam tanah. Katanya lagi, sampai-sampai setiap warganya dilarang menggali sumur di rumahnya karena khawatir akan mengeluarkan minyak dari dalam. Kebayang kayanya, kan? Pantas aja jadi rebutan! Dan kota ini pula yang sering ada bomnya. Kalau temen-temen lihat berita di tv tentang pengeboman di Irak, biasanya kota Kirkuk ini yang dibom.

Dan kemarin, kami melewati rute Kirkuk dalam kota! Untung saya tidur, jadi saya ngga ngerti lewat mana-mananya. Yang kasihan suami. Ia sampai deg-degan dan bingun kenapa sopirnya lewat Kirkuk dalam kota, ngga seperti sopir-sopir lain yang pernah kami tumpangi taksinya. Di jalan, suami saya pun sempat melihat kantor cabang Asia Cell yang dekat dengan kantor polisi yang beberapa waktu lalu dibom. Waktu ia lihat pun tempatnya masih disegel dan masih ada polisi yang menjaganya. Huaduh! Kebayang kalo saya terjaga dan melihat pemandangan mengerikan itu. Pengennya sih difoto, tapi yang ada tangan gemetaran kali, ya, saking takutnya?😐

Di perjalanan akhirnya saya bisa tertidur pulas. Di Kirkuk tadi, kami ganti taksi. Takis yang pertama hanya mengantarkan kami sampai Kirkuk kemudian kami diberi ganti taksi lain yang memang menuju arah Suly. Beruntung, sopir kami kali ini sudah bapak-bapak dan jalannya tenang. Beliau juga bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit sehingga suami saya tidak terlalu sepi selama perjalanan.

Sekitar pukul 22.30 kami tiba di Goizha City, apartemen tempat kami tinggal saat ini. Rasanya ingin cepat-cepat merebahkan badan di kasur. Memang, tidak ada tempat yang indah selain rumah sendiri meski hanya beratapkan jerami dan beralaskan tikar.

Usai sudah jalan-jalan ke Erbil kali ini. Lelah sudah pasti. Namun saya begitu senang karena mendapatkan teman baru yang begitu dekat seperti saudara. Memang, ketika kita berada jauh dari keluarga, tetanggalah yang dekat dengan kita. Maka itu berbuat baiklah pada tetangga karena hanya mereka yang kita punya. Have a nice week, everyone!

-selesai-

Makasih Mba Imel untuk oleh-olehnya. 

Dan makasih banyak banget yang spesial buat Mba Merry dan suaminya yang bersedia mengantar saya sekeluarga jalan-jalan selama di Erbil. Jangan bosen ya kalau saya ke sana lagi. ^^

 

3 thoughts on “Vacation to Erbil (Again): Day 2

  1. Pingback: Vacation to Erbil (Again): Day 1 | Far away from homeland...Indomie's still d best!

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s