Festival Newroz, Tahun Baru Kurdistan

-Ditulis oleh Istiadzah Rohyati-

Apa itu Newroz? Newroz adalah kata lain dari New Day, New Year. Newroz merupakan Tahun Baru bagi masyarakat Kurdistan. Disebut Hari Baru, juga karena di hari itu mereka, menurut mitosnya, terbebas dari belenggu setan di gunung yang selalu meminta nyawa (tumbal) penduduk setempat. Ketika setan telah mati, sang jagoan mengobarkan api di ketinggian, menandakan bahwa mereka telah bebas. Newroz ini diperingati setiap tanggal 21 Maret, yang berarti hari pertama musim semi. Maka itu, ketika Newroz, mereka berbondong-bondong pergi ke gunung untuk menikmati udara sembari piknik dengan keluarga.

Foto ini diambil oleh suami teman saya, Mas Doni. Makasih mas fotonya ^^

Sama seperti Lebaran, orang-orang mudik ke kampung halamannya masing-masing. Akibatnya, jalanan macet. Ketika Newroz pun jalanan macet. Macet, karena semua orang pergi menuju desa, gunung tepatnya. Namun semua orang sangat antusias. Bukan hanya sekadar piknik, tapi sekaligus bersenang-senang. Tak jarang saya lihat kursi-kursi plastik atau kursi-kursi lipat beserta meja dan tikar bertengger di atap mobil mereka. Dan tak lupa pula sound system!

Ya, sound system. Mereka bersenang-senang bersama keluarga di hari itu dengan menari. Nama tariannya sendiri saya ngga tau, saya tanya-tanya om wiki dan mbah gugel pun ngga ketemu. Mereka, orang Kurdi, menari berjajar sambil bergandeng tangan. Oh, kayaknya bukan gandengan, ya, tapi rangkulan. Etapi, bukan rangkulan juga, ding. Terus apa, dong, ya?

Meski sedang piknik, pakaian yang mereka kenakan pun ikut merayakan Newroz. Mereka, rata-rata, mengenakan pakaian tradisional. Bagi yang tidak pernah melihat pakaian tradisional Kurdistan, cukup kaget biasanya. Pakaian tradisional pria, semacam jas atasannya, dengan bawahan yang baggy dan di antara baju-celana diikat dengan kain sebagai ikat pinggang. Ada juga yang hanya mengenakan setelan jas saja. Betul, jas. Seperti orang-orang Indonesia kalau ada acara formal, atau kondangan.

Sementara pakaian tradisional wanitanya beragam, namun tetap menunjukkan satu yang khas: meriah. Bukan meriah dalam cara pekainya, tapi meriah warnanya. Bentuk pakaiannya gamis bermotif. Adapun yang ngga bermotif biasanya dipenuhi pernak-pernik yang menyala. Warna pakaian gamisnya pun terang. Ada yang ungu, biru terang, pink, danlainlain.

Saya dan Mbak Merry ikut menari bersama, supaya bisa direkam maksudnya. Hehe

Sehari sebelum Newroz, pada 20 Maretnya, penduduk Suly berbondong-bondong keluar rumah menuju kota. Semua menuju kota. Pada saat itu, kebetulan saya dan teman-teman suami yang dari Indonesia ikut ke kota juga. Hanya ingin tahu apa saja yang mereka lakukan di sana. Kami berangkat sekitar pukul 4.30 pm dari apartemen. Dan sopir-sopir taksi menolak karena jalan menuju kota ditutup semua. Akhirnya salah satu sopir yang mangkal di depan apartemen mau mengantarkan kami dan ia menggunakan jalan pintas. Bukan jalan pintas sih sebenernya, tapi jalan kecil di perumahan, bukan untuk jalan umum.

Sepanjang perjalanan, saya melihat kobaran api di mana-mana. Ya, mereka memang benar-benar menyambut Newroz. Seperti cerita saya di atas tadi tentang mitos Newroz, sekarang mereka membakar api untuk memperingati kemenangan atas setan yang telah meminta nyawa penduduk di masa lalu. Sambil membakar, mereka juga menari. Ya, menari seperti foto yang saya beri di atas tadi. Sayang, saya tidak bisa motoinnya karena riweuh dan si sopirnya rada ngebut terus suka tiba-tiba ngerem mendadak.

Kami diturunkan masih jauh dari tempat tujuan, tapi karena ditutup jadi kami harus berjalan kaki. Sampai di tengah kota, alamak! Itu udah kayak lautan manusia. Ruamenyaaa minta ampun! Hampir seluruh penduduk Suly ada di tengah kota. Katanya, sih, mau ada parade gitu. Tapi waktu saya di sana, belum ada apa-apa. Hanya ada orasi kecil yang ditonton orang-orang yang lewat, lomba lukis, dan para pedagang kaki lima aja. Ajaibnya, jalanan bersih ngga ada sampah beserakan di mana-mana!🙂

Kami berjalan terus sambil terpana melihat pakaian tradisional yang dikenakan mereka. Saya tertarik ingin mengabadikannya dalam sebuah foto. Namun sayang, gadis-gadis cantik yang saya minta foto bareng, menolaknya. Hiks, sedihnya. Hahaha! Tapi gapapa, mungkin lain kali saya bisa meminta foto bareng yang lain.

Pakaian tradisional wanita

 

Pakaian tradisional pria

Akhirnya saya sekeluarga pamit duluan sama teman-teman yang lain karena sudah hapir maghrib. Saya berbelanja dulu sebentar ke supermarket lalu pulang. Baru aja turun dari taksi, kami disuguhi pemandangan cantik dari kembang api yang memancarkan keindahannya di atas langit. Walaupun kami tidak ikut merayakan dan menghadiri festivalnya tadi, cukup puas dengan hanya melihat kembang api menari-nari ketka pulang. Hari yang lelah, karena esok teman saya, Mbak Merry, akan mengunjungi kami dan menginap.🙂

Satu kesamaan dari Newroz di Kurdistan dan Lebaran di Indonesia adalah mudik. Mudik ke kampung halaman untuk berbagi kebahagian bersama sanak saudara. Meski macet, bukankah itu bisa menjadi warna dalam perjalanan kita? Dan kita akan antusias menceritakan kisah kepada sanak saudara di kampung tentang perjalanan mudik. Ke mana pun kita pergi, selalu ada kisah untuk diceritakan.

Sumber: http://ion.uwinnipeg.ca/~rvakili/Kurdistan.html

-Tulisan ini juga saya post di blog pribadi saya :)

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s