Cara Membayar Ongkos Bus yang Unik

[Cerita ini saya posting juga di blog pribadi saya]

Naik bus? Sungguh, setahun lebih saya tinggal di Suly, nggak pernah sekali pun naik bus. Kepikiran, sih, pernah. Tapi untuk benar-benar naikinnya? Eits, pernah juga, sih. Cuma, waktu itu kan nyewa bus untuk ke Erbil, bukan yang sengaja naik untuk rute dalam kota Suly.

Kemarin, Sabtu (13/4), saya sekeluarga mencoba naik bus. Bukannya apa-apa, saya memang penasaran dan kebetulan biar anak-anak kenal bus juga. Selama ini mereka cuma tahu bentuk bus tapi nggak pernah tahu apa rasanya naik bus. Kasihan, ya?😀

Kami naik bus menuju pasar, sehabis bertandang ke rumah Bu Yeni, salah satu teman baru saya juga di Suly. Beliau bukan TKW seperti Mbak Budiwartini atau Bu Farida, tapi semacam relawan. Yak, relawan yang membantu orang-orang Kurdistan sejak masa penjajahan Saddam.

Kami diantar ke tempat halte bus dekat rumahnya, lumayan jauh terasa karena jalanannya menanjak. Begitu dapt bus yang dicari, kami langsung naik dan beliau menyarankan supaya jangan duduk dekat pintu karena kami akan kebagian operan ongkos. Saya nggak menegerti sebenarnya tapi saya ikuti aja sarannya.

Sopir pun naik dan nggak lama kemudian bus jalan. Satu per satu penumpang mengoper lembaran seribu pada kami, lalu kami mengoper kembali ke penumpang yang duduk di depan kami. Kemudian penumpang di depan kami mengoper kepada penumpang yang duduk di sebelah sopir untuk diberikan pada sopir bus. Begitulah cara pembayaran ongkos bus di Suly. Cukup unik, ya?

Dan nggak lama setelah kami membayar, bus berhenti sebentar. Ternyata sopir kami menukar uangnya pada salah satu sopir bus lain yang juga berhenti dari arah berlawanan. Lalu, setelah bus jalan kembail, diopernya lagi uang lembaran ID 250 kepada penumpang di sebelahnya, kemudian dioper lagi kepada penumpang di depan kami. Penumpang tersebut mengoper lagi kepada penumpang di sebelah kami. Itulah uang kembalian mereka. Benar-benar unik!

Bus berhenti mengambil penumpang yang sudah menunggu di halte lain. Penumpang tersebut naik dan duduk di belakang kami. Nggak lama, uang lembaran seribu dinar dioper kepada kami untuk kami oper ke depan agar sampai ke sopir. Kemudian sopir memberikan kembaliannya dengan mengoperkan kepada penumpang sebelahnya lalu dioper ke penumpang depan kami terus sampai kepada suami saya. Dan akhirnya suami saya mengoperkan uang tersebut kepada si empunya kembalian.

Hihihi, sepanjang oper-operan, saya terus tertawa karena merasa aneh dan lucu dengan cara pembayaran ongkos bus di sini. Kalau saja kemarin itu saya nggak naik bus, saya nggak bakalan tahu ada metode seperti ini di dunia. Nggak ada kernet bus, nggak ada tiang untuk memasukkan uang/ koin, nggak ada tiang untuk menggesek tiket juga.

Seorang pria mengoper uang pada penumpang sebelahnya. Foto saya ambil dari sini.

Kami turun di pemberhentian terakhir yaitu terminal. Syukurlah, saya kenal dengan lokasinya karena sehari sebelumnya saya ke sana untuk mencari ikan laut bersama Mbak Gita dan Mbak Budiwartini.

Nggak usah bandingin sama bus kota di Jakarta, ya. Hehehe. Gimana pun juga, Jakarta tetap dirindukan. Nah, di tempat kalian, gimana cara membayar ongkos busnya?

10 thoughts on “Cara Membayar Ongkos Bus yang Unik

  1. lucu juga sepanjang jalan harus oper2an duit.

    btw mba Isti, teman saya ada beberapa di Suly. Sepertinya sekantor dengan suami mbak Isti deh.

    Mungkin mbak Isti juga kenal dengan istri mereka: Joko Sriyono, Arifatullah, Djoko Soehartono. Yang terakhir sudah kembali ke Jakarta sih. Saya lihat ada foto Arif di blog mbak Isti waktu bersama pak Dubes. Kalo liat foto suaminya, juga saya familiar sih.

    maklum kerja di industri yang sama. hehehe

    • Hai, Mbak De!
      Iyah, emang lucu, saya aja sampe ketawa-ketawa terus ngeliat oper2an. Untung mereka pada ga ngerti kalo saya ngetawain cara tersebut.😀
      Oh, iya mba. Kenal banget sama Pak Joko, Mas Arif, Mas Djoko juga. Olala ternyata ya ga jauh2, masih dalam lindungan gedung yang sama. Hahaha! Coba nanti saya tanya suami ah, mungkin kenal sama Mbak De juga.🙂

      Eniwei, salam kenal ya, Mbak. Makasih udah mampir ke rumah kami🙂

  2. Salam kenal bu isti… seneng dengan postingan mba isti… tapi nga salah tuh tulisan mbak isti yg nyebut Presiden Saddam sebagai penjajah… warga yang dibunuh Presiden Saddam itu kan syiah mbak…

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s