Melahirkan di Jepang? Siapa Takut? (Bagian 1) -Hamil dan Persiapan Melahirkan-

Oleh: Kartika Kusumastuti (Mama Nisa)πŸ™‚

***

Halo, pembaca MamaSejagat di seluruh dunia! Senangnya blog ini tanggal 3 November kemarin di-review Harian Pikiran Rakyat Bandung, loh. Ada yang udah baca? Senangnya bisa berbagi cerita meskipun hanya dengan tulisan. Semangaaat para mama!

Ini postingan saya yang kedua di MamaSejagat. Kali ini saya mau cerita pengalaman melahirkan di Jepang. Tapi kok, β€œbagian 1”? Iya, karena ceritanya panjaaaaang (sok iye). Jadi biar yang baca enggak siwer, saya penggal ceritanya jadi dua bagian. Enggak apa-apa ya.

***

27 Maret 2011. Saya tepat menginjakkan kaki di bumi Jepang untuk pertama kalinya. Kedatangan saya disambut oleh suami. Saya datang berdua dengan si calon bayi 4 bulan yang masih di dalam perut.

Jadi begini, saat itu kami masih terbilang pengantin baru. Seminggu setelah menikah, suami sudah terbang ke Jepang untuk bekerja meninggalkan saya di Indonesia. Tapi saya bertekad untuk menyusul suami dan tinggal bersama.

Satu bulan setelah paspor saya jadi, saya dikejutkan dengan kehadiran si calon bayi dalam rahim saya. Alhamdulillah. Tekad saya pun semakin kuat untuk membawa serta calon bayi ini ke Jepang.

Ini adalah cerita saya hamil dan melahirkan di Jepang. Tidak perlu takut karena jauh dari orangtua. Di sini semua tertangani dengan baik. Mari disimak tahapan-tahapannya, siapa tahu ada mama yang mau melahirkan di Jepang juga.

Pentingnya Kartu Asuransi dan Boshitecho

Sampai di Jepang, saya enggak bisa langsung periksa kandungan ke dokter, karena saya belum punya kartu asuransi. Asuransi ini sifatnya wajib di Jepang, dan memang ini untuk memudahkan warganya mendapat fasilitas kesehatan. Dengan adanya kartu asuransi, biaya kesehatan kita otomatis sudah dipotong sekian persen. Berlaku di semua instansi kesehatan yang ada di Jepang, dan untuk penyakit apapun.

Untuk mengurus kartu asuransi ini, diperlukan kartu penduduk orang asing. Akhirnya selama satu bulan saya bolak-balik ke kantor pemerintah kota untuk mengurus KTP (kartu tanda penduduk) dulu. Setelah jadi, baru bisa urus kartu asuransi ke kantor suami, karena asuransi saya otomatis ikut asuransi suami.

Setelah kartu asuransi sudah di tangan, baru deh bisa cek kandungan. Saat itu usia kandungan saya sudah 6 bulan. Awalnya, saya datang ke klinik bersalin dekat apato (sebutan untuk apartemen Jepang). Tapi sayang saya ditolak! Alasannya? Kata mereka, usia kandungan saya sudah terlalu besar, jadi mereka agak khawatir karena tidak mengetahui riwayat kehamilan saya dari awal (padahal saya bawa catatan dari Indonesia). Okelah kalau begitu.

Akhirnya saya pergi ke Rumah Sakit. Alhamdulillah saya disambut baik. Saya disuruh ngisi formulir yang isinya tentang riwayat kesehatan, siklus datang bulan, dll. Setelah diperiksa dokter, saya diberi surat keterangan hamil. Surat keterangan itu nantinya harus dibawa ke Dinas Kesehatan Kota (seperti posyandu kalo di Indo) untuk mendapatkan boshitecho (buku panduan ibu dan anak). Boshitecho ini penting untuk mengetahui riwayat kehamilan sampai si bayi lahir, dan terus sampai anak berusia 5 tahun. Dalam buku ini juga terdapat catatan imunisasi anak, dan catatan tumbuh kembang anak. Lengkap! Kalau di Indo kayak buku KMS kali yah.

Setelah tercatat sebagai ibu hamil di Dinas Kesehatan Kota dan dapat buku boshitecho, saya rutin periksa ke RS. Setiap periksa, perawat akan mencatat setiap perkembangan di boshitecho saya. Oya, boshitecho ini tersedia versi bahasa Indonesia, lho! Jadi jangan khawatir.

Selain buku boshitecho, saya juga dapat berbagai booklet dan brosur tentang informasi seputar ibu hamil. Makanan bergizi yang dianjurkan untuk bumil, info yoga dan senam bumil, ciri-ciri akan melahirkan, dll. Ada juga gantungan kunci untuk bumil yang bunyi tulisannya “Onaka no naka ni akachan ga imasu” (Di dalam perut ada bayi). Gantungan kunci ini berfungsi sebagai identitas kalau kita keluar rumah. Pasang di tas, supaya orang lain tahu kalau kita sedang hamil, jadi mereka akan lebih berhati-hati. Feel so special? Bangeeett!πŸ˜€

Oya, pengalaman saya periksa kandungan di sini, ibu-ibu Jepang ternyata mandiri semua. Kebanyakan mereka datang sendiri, enggak ditemenin suami. Emang jadwal periksa RS pas hari kerja sih (senin-jum’at), jadi bapak-bapak pada kerja kali ya. Hari sabtu jarang, paling satu bulan satu-dua kali mengikuti jadwal Rumah Sakitnya. Saya juga datang sendiri sih. Naik bis sendiri juga. Hehe.

Ritual sebelum periksa, para bumil ambil gelas plastik yang tersedia di depan meja pendaftaran. Kemudian ngantri ke toilet untuk pipis. Nanti pipisnya itu dimasukin ke gelas tadi. Di dalam toiletnya ada jendela kecil tempat taruh gelas yang sudah dipipisi. Jangan lupa dikasih nama gelasnya biar enggak ketuker sama pipis orang. Hehe. Ini untuk cek urin. Setelah itu, antri lagi ke mesin ukur tensi dan timbang berat badan. Semua dilakukan sendiri loh, enggak ada suster yang bantu. Mesin ukur tensinya otomatis, kita tinggal masukin tangan trus pencet-pencet, udah keluar hasilnya. Keren. Hasilnya kita catat di kertas yang sudah disediakan, berat badan juga dicatat.

Setelah selesai, kertas tadi dimasukkan ke dalam buku boshitecho dan dikumpulkan ke meja pendaftaran. Abis itu tinggal ngantri deh tunggu dipanggil. Tertib ya! Enggak ada tuh yang pesen antrian lewat telepon. Semua berdasarkan waktu kedatangan. Dan waktu kedatangan ini sudah ditentukan pada saat periksa sebelumnya.πŸ™‚

Oya satu lagi, setelah periksa kandungan, saya enggak bawa oleh-oleh apa-apa. Maksudnya dokter enggak kasih saya segala macam obat dan vitamin untuk ibu hamil, dan sebagainya. Saya cuma bawa hasil periksa yang sudah dicatat di buku boshitecho dan tiga lembar hasil print USG. Perasaan dokter juga enggak nyuruh saya minum susu apapun. Ya, bukannya enggak boleh minum susu sih, cuma itu terserah bumilnya aja mau minum apa enggak. Yang penting tenaga kesehatan di sini sudah memberikan informasi tentang makanan bergizi untuk ibu hamil.πŸ˜‰

Persiapan Melahirkan

Setelah beberapa kali periksa rutin, saya divonis tali plasenta pendek oleh dokter. Apa maksudnya? Maksudnya, tali plasenta saya yang menghubungkan saya dan si janin tidak cukup panjang. Dikhawatirkan saya tidak bisa melahirkan normal. Logikanya, kalau tali plasenta pendek, bayi tidak akan bisa keluar karena tertahan oleh tali yang pendek tadi. Begitu penjelasan dokter.

Tentu saja saya terkejut. Apalagi suami, tapi ia berusaha menenangkan hati saya. Saya pun mulai mencari-cari referensi lewat internet, tanya-tanya pada orangtua dan teman bidan. Ternyata opsi operasi caesar untuk tali plasenta pendek memang selalu dianjurkan. Hufft.

Akhirnya saya pasrah. Saya pun menjalani persiapan pra operasi. Salah satunya adalah nabung darah. Darah saya diambil sampai 200 ml sebanyak dua kali. Selebihnya tinggal persiapan mental saja.

Keajaiban Datang

Satu minggu pemeriksaan terakhir sebelum jadwal operasi caesar yang sudah ditentukan, lagi-lagi saya mendapat kejutan. Dokter bilang tali plasenta saya tiba-tiba panjang. Allahu Akbar!

Untuk memastikan, saya disuruh cek MRI. Setelah MRI pun saya masih di-USG transvaginal (USG lewat vagina) sampai dua kali. Dan benar saja, hasil MRI dan dua kali USG, sama-samaΒ  menunjukkan kalau tali plasenta saya cukup panjang untuk melahirkan normal. Dokter pun memutuskan untuk tidak jadi mengoperasi saya, dan menyuruh saya menunggu sampai hari perkiraan lahir tiba.

Bukan main senangnya saya. Sungguh enggak ada yang enggak mungkin bagi Allah. Setelah itu saya mulai mempersiapkan persalinan saya. Jalan kaki tiap sore, makan yang banyak untuk menambah berat badan janin, pijat payudara untuk merangsang keluarnya ASI, dll.

Oya, ada cerita lucu waktu abis periksa hari itu. Karena saya dirujuk suruh MRI, otomatis biaya periksa melonjak. Saya sih udah feeling, pasti mahal nih. Dan benar saja, setelah dipotong asuransi dan voucher hamil -fasilitas dari pemerintah kota untuk bumil-, biaya yang yang harus saya bayar sekitar 7000 yen (sekitar 700 ribu rupiah) kalo enggak salah (kalo tanpa potongan saya enggak tahu, pasti mahal bangeet).

Saya enggak kaget sih, cuma yang bikin saya keringet dingin adalah saya enggak bawa uang! Hah? Di dompet cuma ada uang 4000 yen, dan apesnya saya enggak bawa kartu ATM. Duh! Sambil menahan malu, saya pun ngaku ke mbak kasir kalo uang saya kurang. Bagaimana ya?

Dan si mbak kasirnya dengan ramah sambil senyum bilang, β€œOh, tidak apa-apa, Bu. Ibu bayar pakai uang yang ada saja. Nanti kekurangannya bisa dibayar saat periksa selanjutnya.”

Nyess! Langsung legaaaaa rasanya. Bisa begitu ya? Saya berkali-kali memastikan, β€œhonto desu ka? (yang bener, mbak?)”. Si mbak pun berkali-kali bilang, β€œhai, daijoubu desu. (iya, ga pa pa)”. Ih, pengen saya peluk deh si mbaknya. Hehehe. Kirain saya disuruh ninggal KTP atau enggak boleh pulang sampe dibayar lunas. Hihihi. :p

Oke, sampai di sini dulu ceritanya. Nanti disambung ke bagian 2. Selanjutnya, saya akan cerita tentang persalinan saya, apa yang harus dilakukan setelah persalinan seperti proses pendaftaran bayi di Kantor Pemerintah Kota, pembuatan paspor bayi, dan Surat Keterangan Lahir. Apakah saya bisa melahirkan normal? Tunggu ceritanya ya. Bisa lebih panjang dari postingan ini. Hahaha.πŸ˜€

Image

***

PS: Kalau mau lebih banyak tau tentang cerita saya silakan kunjungi blog pribadi saya di http://catatanmamanisa.wordpress.com/

Salam hangat dari Jepang.πŸ™‚

One thought on “Melahirkan di Jepang? Siapa Takut? (Bagian 1) -Hamil dan Persiapan Melahirkan-

  1. Saya suka artikel ini. Melahirkan di negeri orang tentu jadi pengalaman yang sangat langka dan berharga, apalagi dengan bahasa dan budaya yang berbeda, banyak pelajaran yang bisa dipetik …

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s