Melahirkan di Jepang? Siapa Takut? (bagian 2) – Mengurus Surat Penting Anak di Jepang –

Oleh Kartika Kusumastuti (Mama Nisa)

***

Sebelumnya, postingan tentang Mengurus Surat Penting Anak di Jepang ini sudah saya posting di blog pribadi. Tapi di sini saya edit lagi, ada yang saya tambahin. Tapi intinya sih sama. Jadi, terserah mau baca yang ini atau yang itu (yang di blog pribadi). ^_^

Birth Plan & Takdir Mama

Sebelum melahirkan, pihak RS menanyakan tentang rencana lahiran (birth plan) yang saya harapkan. Saya agak-agak lupa, tapi yang jelas waktu itu saya mengajukan keinginan untuk IMD dan menyusui ASI segera begitu bayi saya lahir. Juga tentang makanan yang boleh dan tidak boleh saya makan selama nanti di RS.

Benar-benar birth plan ini harus dipikirkan baik-baik dan dikomunikasikan dengan pihak RS. Supaya tidak terjadi kesalah-pahaman nantinya. Dan menghindari kita menjelaskan panjang lebar ke orang Jepang yang belum tentu mereka mengerti. Hehe.

Kemudian, perlengkapan yang harus disiapkan saat persalinan:

a. Dokumen nyuuin (menginap di RS), dan persalinan. => biasanya ini sudah dikasih pihak RS jauh-jauh hari. Kita tinggal mengisinya di rumah dan membawanya saat persalinan. Diperlukan dua cap/tanda tangan dari dua orang yang menjamin pasien (dalam hal ini si ibu yang mau melahirkan). Biasanya dari suami dan satu orang lagi (bisa teman, atau siapa saja yang bersedia menjamin).

b. Pembalut wanita untuk nifas. => ada RS yang menyediakan, jadi tidak perlu bawa.

c. Sanitari Kit pribadi (sabun, shampoo, dll)

d. Baju tidur longgar, dan baju ganti, serta pakaian dalam. (Sesuaikan jumlahnya untuk menginap di RS minimal 5 hari)

e. Nursing Pad atau bra menyusui.

f. Perlengkapan bayi => ada RS yang menyediakan baju bayi selama menginap di RS, jadi tidak perlu bawa. Hanya perlu bawa satu stel baju bayi untuk pulang (saat keluar RS).

17 Agustus 2011. Di Jepang sedang libur musim panas. Hari perkiraan lahir masih satu minggu lagi. Tapi, saya sudah merasakan kontraksi dan sedikit flek. Walaupun masih terlalu dini, saya mencoba menghitung menit. Ah, masih belum. Saya pun mencoba tidur. Tapi 15 menit kemudian, tiba-tiba air ketuban saya pecah. Berusaha untuk tidak panik, saya segera ganti baju dan menghubungi RS.

Prosedur saat menghubungi RS ketika hendak melahirkan:

  1. Yang menghubungi harus ibu yang akan melahirkan (tidak boleh diwakilkan).
  2. Sebutkan nama lengkap dan nomor pasien (sesuai yang tertulis di kartu RS).
  3. Frekuensi kontraksi berapa menit.
  4. Sebutkan tanda-tanda melahirkan yang dirasakan.
  5. Jarak rumah dengan RS berapa menit, dan akan naik apa. Apakah perlu bantuan mobil ambulans untuk menjemput.

Setelah menghubungi RS, saya diantar suami naik mobil dengan membawa semua perlengkapan yang sudah disiapkan. Sampai RS, saya segera diperiksa dalam untuk mengetahui sudah bukaan berapa. Ternyata masih bukaan satu. Tapi karena ketuban sudah pecah, saya harus menginap.

Selagi saya merasakan sakit kontraksi, perut saya dililitkan alat untuk memeriksa denyut jantung janin. Betapa terkejutnya saya ketika diberitahu kalau denyut jantung janin lemah dan hampir datar. Apa yang terjadi?

Dokter pun mengambil langkah cepat. Beliau menganjurkan saya untuk segera operasi caesar, atau bayi saya akan meninggal di dalam. Astagfirullah! Saya tak punya pilihan lain selain meng-iya-kan. Akhirnya saya pun dibawa ke ruang operasi. Suami tidak boleh menemani di dalam. Pasrah. Saya harus berjuang sendiri.

Pukul 18.27 waktu Jepang, bayi saya lahir. Tepat di hari Kemerdekaan Indonesia. Berat 2,2 kg panjang 47 cm. Kecil sekali. Bayi saya langsung dimasukkan ke inkubator untuk perawatan. Birth plan yang sudah saya rencanakan, gagal total. Saya tidak bisa IMD, dan tidak bisa menyusui segera setelah lahir.

Keesokan harinya pun saya masih belum bisa menyusui karena bayi saya belum boleh keluar dari inkubator. Alhasil, ASI saya perah, itu pun hanya dapat satu dua tetes saja. Ingin menangis rasanya. Tapi tak akan membantu. Saya berusaha ikhlas menerima takdir saya. Memang harus beginilah jalannya. Saya bersyukur bayi saya lahir selamat dan hidup. Saat keluar RS saya baru tahu kalau bayi saya lahir mati saat diambil dari perut, kemudian tim dokter melakukan resusitasi (pacu jantung) dan Maha Besar Allah bayi saya kembali bernapas.

Annisa Mana Setiawan. Nama yang kami sematkan untuk putri kecil kami. Total sepuluh hari kami di RS, menjalani perawatan dan berbagai pemeriksaan, serta persiapan menjadi ibu baru. Setelah dinyatakan sehat, baru kami boleh pulang.

292858_2170732279480_7913609_n

Bantuan Pemerintah

Setiap ibu yang akan melahirkan di Jepang, Pemerintah Jepang akan memberikan tunjangan sebesar 420 ribu yen (kurang lebih 42 juta rupiah). Ini berlaku untuk semua warga yang tinggal di Jepang (tentunya yang sudah terdaftar dengan dibuktikan dengan KTP Jepang). Termasuk orang asing.

Uang tunjangan ini langsung disalurkan ke pihak RS, jadi kita enggak perlu repot-repot ngurus ke kantor pemerintah setempat. Biaya persalinannya tergantung RS tempat melahirkan. Jika biaya lebih dari 420 ribu yen, pasien tinggal membayar kekurangannya. Jika biaya kurang dari itu, pasien akan mendapat kembaliannya. Cool, huh?

Kalau enggak salah dulu saya bayarnya hanya sekitar 68.000yen (7 jutaan). Cukup murah kan mengingat saya operasi caesar + biaya RS selama 10 hari + perawatan bayi di inkubator, dll. Dan kagetnya ternyata biaya perawatan bayi di RS dikembalikan! Ini karena biaya perawatan anak di Jepang disubsidi Pemerintah (tentunya setelah kita urus Kartu Sehat Anak + Asuransi Anak + Tunjangan Anak). Ayo lahiran di Jepang! Hehe.

Sebenarnya ini adalah salah satu program pemerintah dalam upaya membujuk para wanita Jepang agar mau melahirkan. Konon katanya penduduk Jepang sedang terancam karena wanita Jepang menolak menikah dan punya anak. Angka kelahiran sedikit sekali, sedangkan penduduk usia tua semakin banyak. Jadi, pemerintah berusaha memfasilitasi warganya dengan memberikan tunjangan melahirkan dan tunjangan anak tiap bulan sampai anak dewasa.

Pendaftaran Kelahiran Anak di Kantor Pemerintah Jepang

Setelah anak lahir, jangan lupa untuk melaporkan kelahiran anak ke kantor pemerintah kota setempat (shiyakusho).

Pelaporan kelahiran anak (shussei-todoke):

  1. Harap lapor ke kantor pemerintah kota (shiyakusho) dalam waktu 14 hari setelah kelahiran.
  2. Membawa surat keterangan lahir dari RS dan cap / stempel (inkan) orangtua (ayah atau ibu).
  3. Bawa juga boshitecho (buku panduan ibu dan anak) dan kartu asuransi orangtua.
  4. Selesai! Hasilnya akan terlihat di buku boshitecho halaman pertama, akan terisi nama anak kita yang ditulis oleh petugas dalam hurus Katakana (penamaan orang asing) dan telah dibubuhi cap resmi dari Walikota setempat.
  5. Setelah shussei-todoke selesai, ada beberapa surat lain yang harus diurus:

1. KTP anak. KTP anak tidak memerlukan foto tetapi sudah tercantum nomor KTP seperti orang dewasa.

2. Asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan anak otomatis ikut orangtua. Jadi silakan mengurus di tempat kerja orangtua. Atau jika orangtua tidak bekerja atau berstatus sebagai pelajar, bisa mendaftarkan asuransi di kantor pemerintah.

3. Kartu Sehat Anak dan Tunjangan anak. Kartu Sehat Anak ini seperti kartu jaminan kesehatan untuk anak hingga usia 15 tahun. Dengan adanya kartu ini, bila anak sakit, ke dokter atau dirawat di RS, biayanya gratis. Penyakit apapun, habis berapapun, dan di rumah sakit mana pun. Untuk tunjangan anak, anak usia 0-3 tahun mendapat 15 ribu yen (1,5 juta rupiah) tiap bulan yang akan dibayarkan tiap empat bulan sekali. Tunjangan ini diberikan sampai anak dewasa (kalau tidak salah sampai 15 tahun) dengan besaran yang berbeda.

4. Visa Anak. Visa anak ini diurus di kantor imigrasi. Diurus dalam waktu 30 hari setelah kelahiran anak. Tadinya saya pikir visa baru bisa diurus setelah anak mengurus paspor terlebih dulu. Ternyata visa bisa didapat tanpa membuat paspor terlebih dulu. Visa ini ditempel sementara di KTP anak sampai anak dapat paspor baru nanti visanya dipindahkan ke paspor. Tapi, untuk ini silakan ditanyakan ke pihak imigrasi kota masing-masing takutnya peraturannya tidak sama.

Setelah semua selesai, jangan lupa laporkan juga kelahiran anak ke Dinas Kesehatan Kota (kenkou-senta), seperti posyandu kalau di Indonesia. Ini untuk memudahkan pemerintah memberikan informasi tentang jadwal imunisasi, jadwal periksa rutin, konsultasi, dll. Biasanya segala informasi akan dikirim melalui pos atau datang sendiri.

Satu bulan pertama akan ada ikkagetsu-kenshin (periksa rutin usia satu bulan). Ini dilakukan di RS masing-masing tempat melahirkan. Diperiksa BB-TB, pola menyusui (ASI atau tidak), dll. Kalau Nisa plus cek MRI karena sudah ada janji dengan dokter untuk melihat perkembangan. Alhamdulillaaaah hasilnya darah beku yang katanya ada di kepala Nisa saat lahir, sudah hilang. Sujud syukur.

Oya, imunisasi di Jepang dimulai usia 3 bulan. Imunisasi pertamanya adalah BCG. Jadi, bayi usia 0-3 bulan, tidak perlu imunisasi. Saya pernah bertanya sama dokter, ini karena bayi baru lahir masih memiliki sistem imun alami yang dibawa dari perut ibunya (plasenta). Begitu katanya. Eh tapi ada imunisasi tidak wajib yang bisa dimulai saat usia 2 bulan yaitu imunisasi Hib dan PCV.

Saat bayi usia 2 bulan, biasanya akan ada kunjungan bidan ke rumah. Jadi, kita akan ditelpon pihak posyandu memberitahukan kalau akan ada bidan yang berkunjung untuk pemeriksaan rutin. Mungkin juga untuk mengetahui secara langsung keadaan lingkungan bayi yang dibesarkan. Bulan berikutnya kunjungan bidan by request. Maksudnya pemeriksaan bisa datang sendiri ke posyandu atau kalau tidak sempat bisa minta bidan yang datang. Saya memilih datang sendiri ke posyandu biar sekalian jalan-jalan lah, daripada di rumah terus.

Pendaftaran Kelahiran Anak di Kantor Kedutaan Besar Indonesia

1. Paspor anak. Walaupun masih bayi, peraturan baru mewajibkan anak memiliki paspor sendiri, tidak bergabung dengan orangtua. Pembuatan paspor ini bisa dilakukan di Kedubes Indonesia di Tokyo atau Konjen Indonesia di Osaka. Syarat-syaratnya bisa dilihat di web Kedubes Tokyo atau Konjen Osaka. Sepertinya bisa juga mengurus via pos (pengalaman teman). Jadi, berkas-berkas dikirim lewat pos, nanti hasilnya juga dikirim lewat pos. Tapi dengan resiko, paspor asli orangtua dan KTP asli orangtua juga ikut dikirim, dan kita akan berharap-harap cemas selama kurang lebih dua minggu tidak memegang dua kartu identitas penting itu di dompet. Huaa. Makanya, lebih amannya sih datang langsung sendiri menyampaikan berkas, nanti hasilnya baru dikirim lewat pos. Oya, setelah paspor jadi, jangan lupa kembali ke kantor imigrasi Jepang untuk memindahkan visa sementara yang sebelumnya.

2. Surat Keterangan Lahir (SKL). Ini semacam Akte Lahir gitu. Kenapa namanya beda? Karena katanya yang berhak mengeluarkan Akte Lahir itu hanya pemerintah Indonesia di Indonesia. Pihak perwakilan RI di luar negeri tidak berhak mengeluarkan Akte Lahir. Sebagai gantinya, diberikan Surat Keterangan Lahir (SKL). Saya tidak tahu apakah kedudukannya sama atau tidak dengan Akte Lahir. Katanya sih beda, jadi nanti saat balik Indo harus urus lagi Akte Kelahiran. Tapi yang jelas SKL ini wajib diurus di Jepang. Bisa sekalian urus paspor biar enggak bolak balik ke Kedubes / Konjen. Syarat-syaratnya silakan lihat di web Kedubes/Konjen.

Selesai! Fiuh, banyak juga ya surat-surat yang harus diurus. Tapi, proses pembuatannya tidak makan waktu lama kok. Cuma pas nyiapin berkas-berkasnya aja yang agak ribet. Hehe. Hari-hari saya pun disibukkan dengan mengurus bayi dan tugas-tugas rumah tangga. Maklum enggak ada pembantu.

Begitulah, lika-liku melahirkan di Jepang. Tidak sulit kan? Tidak usah terlalu banyak berpikir, just do it! Oya, waktu itu ibu saya sempat datang dari Indonesia selama dua minggu untuk menengok cucu dan membantu saya pasca melahirkan. Love you, Mom!

***

Catatan: Info di atas tentang pelaporan kelahiran anak di Jepang saya lakukan di Kantor Pemerintah Kota Kariya, dan Kantor Imigrasi Nagoya, Prefektur Aichi tahun 2011. Jika melahirkan di kota lain di luar Prefektur Aichi, silakan menanyakan langsung ke Kantor Pemerintah Kota masing-masing ya. Takutnya aturannya beda.

Salam hangat dari Jepang.๐Ÿ™‚

9 thoughts on “Melahirkan di Jepang? Siapa Takut? (bagian 2) – Mengurus Surat Penting Anak di Jepang –

  1. wah baru tahu detailnya soal melahirkan di Jepang, kok bisa-bisanya operasi cesar murah begitu ya….gratis pula…mau donk nanti kalo ada rezeki mau lahirin disana hahaha..jauh ya…

  2. Salam kenal ya mama Nisa,,waaaaw infonya membantu sekali,,insha Allah bln depan saya juga akan menyusul suami yg sdh terlebih dahulu berangkat kesana,,kebetulan saya juga sedang hamil 4 bulan dan insha Allah akan melahirkan d Jepang,,๐Ÿ™‚

Silahkan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s